Suriah, Tragedi Kemanusiaan Jangan Sampai Terabai

Author: Share:

Suriah, Tragedi Kemanusiaan Jangan Sampai Terabai

228162
Foto : todayszaman

Dunia kembali terbelalak dengan tragedi kemanusiaan terbesar abad ini pasca ditemukannya jasad seorang bocah imigran Suriah, Aylan Kurdi (3 tahun), yang tenggelam dan terdampar di pantai Turki. Reuters melaporkan, foto itu memperlihatkan seorang bocah dengan kaos merah dan celana pendek biru, tewas tergeletak dengan wajah telungkup mencium pasir tepat di pinggir pantai di kawasan resor kota Bodrum.

Foto itu membetot perhatian publik dunia dan menjadi viral di media sosial bagaikan bola salju. Lalu media pun, beruntun memberitakan apa yang sedang terjadi dengan para pengungsi Suriah, yang menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencapai 7,6 juta jiwa, yang mayoritas berusia di bawah 18 tahun. Gelombang pengungsi Suriah pun kini kembali menjadi perhatian dunia.

Setelah lebih empat tahun konflik, diperkirakan lebih dari 220.000 orang tewas. Sebagian besar warga sipil. Penghancuran infrastruktur kota-kota di Suriah dan pelanggaran hak asasi manusia sampai pada tahap mengerikan.  Ironisnya, kebutuhan dasar seperti makanan dan perawatan medis bagi para korban konflik tersebut sangat jauh dari memadai.

PBB melaporkan diperkirakan 7,6 juta orang Suriah mengungsi. Setengah dari dari 23 juta warga negara Suriah, membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak. Mereka tercerai berai, ada yang masih bertahan di negaranya atau menyelamatkan diri melintasi perbatasan berbagai negara. Mereka memutuskan melarikan diri setelah melihat kenyataan wilayahnya menjadi arena perang, menyaksikan anggota keluarga tewas oleh senjata mesin yang membabi buta atau rumah mereka yang rata dengan tanah akibat bom.

Kini para ratusan ribu pengungsi Suriah mencoba melakukan perjalanan berbahaya melintasi Laut Mediterania dari Turki ke Yunani, berharap menemukan masa depan yang lebih baik di Eropa.  Mereka melakukan perjalanan bermil-mil, berhari-hari, dan dilakukan pada malam hari, demi menghindari penembak jitu atau tertangkap serdadu  yang memaksa pemuda-pemuda sipil ikut mengangkat senjata membela pemerintah.

Dalam waktu lebih dari empat bulan sejak perang sipil pecah, Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi memberikan status pengungsi kepada 100.000 warga Suriah. Lalu pada  April tahun 2013,  800.000 warga sipil Suriah terdaftar sebagai pengungsi. Lalu kurang dari empat bulan, angka itu terus bertambah menjadi 1,6 juta orang. Sekarang ada empat juta warga Suriah yang tersebar di seluruh wilayah, membuat mereka menjadi pengungsi terbesar di dunia di bawah mandat PBB. Pada tahun ini, PBB memprediksi mungkin ada 4,27 juta pengungsi Suriah pada akhir 2015. Sebuah eksodus terburuk sejak genosida Rwanda 20 tahun yang lalu.

M. Insan Nurrohman, Vice President ACT mengatakan,” Saatnya kita hadirkan kepedulian bangsa Indonesia. Sudah ribuan jiwa melayang dalam perjalanan mencari suaka, amat aneh bahkan menggugat keimanan kita sebagai umat beragama, jika tidak melakukan apapun! Mempedulikan sesama itu, wujud kemanusiaan, tak peduli berarti melenyapkan kemanusiaan kita. Aksi kami hari ini, bagian dari matarantai penyelamatan kemanusiaan, bukan saja untuk pengungsi tetapi untuk rakyat Indonesia yang membiarkan tragedi kemanusiaan ini terjadi tanpa berbuat apa-apa. Maka, sebelum Yang Maha Kuasa mencabut kenikmatan, kehormatan bahkan kedaulatan kemanusiaan kita, bersama-sama, sejak hari ini dan seterusnya, kit tak akan abai lagi terhadap krisis kemanusiaan di mana pun.”

Siaran PERS ACT

(eni)

Share this...
Print this page
Print
Previous Article

SMPIT Thariq Bin Ziyad Cikarang Gelar Seminar Bertemakan Keluarga Muslim

Next Article

Ketua Regu 9 Jamaah Haji Meninggal Dunia Dalam Insiden Crane Roboh

Lihat Berita Yang Lain

Leave a Reply