Menu Click to open Menus
Home » Opini » Ketika Tradisionalisme Tergerus Realita Zaman

Ketika Tradisionalisme Tergerus Realita Zaman

(558 Views) March 20, 2017 10:51 pm | Published by | No comment

Santer terdengar bahwa peralihan itu pasti, pancaroba mau tidak mau, suka tidak suka, tentu akan menggerus sebuah realita. Kebutuhan zaman yang semakin modern tentu membawa dampak bagi perubahan alam semesta baik manusia, hewan, tumbuhan, teknologi, dan bahkan transportasi.

Belakangan ini, ramai diperbincangkan di kota-kota besar ketika transportasi mulai berbaur dengan teknologi, semua serba praktis, cepat, dan effisien. Konteks effisien ini bukan hanya menyangkut masalah harga tetapi waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Begitulah hukum alam kepuasaan konsumen selalu menjadi prioritas. Kualitas bukan hanya isapan jempol belaka melainkan fakta dalam menjemput raja. Amat marak semua serba via online judulnya, semua tinggal tekan dengan telunjuk lalu klis Yes untuk Ok dan No untuk Cancel.

Lalu bagaimana dengan yang buta aksara? bagaimana dengan yang buta teknologi?  bagaimana dengan yang tidak paham? Ya sudah pasti jawabannya, yang buta akan tertinggal, yang lama akan tergusur, dan yang tidak mau berkembang pasti akan terabaikan. Kejam ya dunia? Memang!

Sesuai dengan faktanya manusia adalah makhluk paling sempurna di dunia, karena setiap detik perubahan teknologi dapat dikatakan “memudahkan” segalanya. Tidak menutup kemungkinan, bagi yang memiliki materi yang lebih adalah raja kaum modernisasi.

Jangan salah fokus ya, tulisan ini tidak membahas keseluruhan pembaharuan teknologi dalam segala aspek kok. Lalu tentang apa? Kalau jeli membaca pasti tahu arah bahasannya, kalau belum resapi tulisan dibawah ini.

Pada era sebelumnya,tepatnya era 90-an, hal yang paling membahagiakan bagi anak kecil adalah ketika diajak jalan-jalan ke pasar naik delman. Dimana mereka dapat menikmati angin sepoi-sepoi serta lebih cepat sampai dibandingkan becak dan ada kesenangan tersendiri yang dirasakan ketika menikmati semilir angin dengan alunan khas pacuan kuda membuat nyaman dan membawa suasana diri untuk mengantuk. Itulah ciri khas andong yang saat ini hanya dapat ditemukan di kota wisata serta daerah-daerah bernuansa pedesaan.

Berbicara tentang tentang peralihan tentu tidak lepas dari penyesuaian zaman, setelah delman dan becak perlahan mulai berkurang kuantitasnya dan bahkan sulit ditemukan di kota besar, pembaharuan transportasi beralih ke dimensi yang lebih modern yaitu angkutan kota atau singkatannya “angkot” serta alat kemudi lain yang lebih cepat sampai ke tempat tujuan karena bentuknya yang lebih ramping bernama ojek serta untuk kaum kelas menengah ke atas pada zamannya tentu lebih mementingkan kenyamanan menunggang maka lebih memilih kendaraan pribadi berbasis tarif bernama taksi.

Membahas tentang ketiga bentuk transportasi tersebut, tentu tidak luput dari ide-ide kecanggihan teknologi yang terus berinovasi untuk memualikan raja dalam menjemput rezeki.  Bukan sekedar mata pencaharian, tetapi bisnis cerdas yang dimanfaatkan oleh manusia untuk menarik keuntungan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi melalui alat komunikasi ajaib paling mutakhir yang bernama smartphone.

Fast access orientation and easy to order menjadi momok produsen penggila bisnis transportasi dalam meningkatkan kualitas serta promosi melalui dunia maya. Pelayanan prima bagi pengguna merupakan target utama dan azas praktisasi sebagai pilihan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan bukan sekedar kebutuhan tetapi keinginan pribadinya. Tentu yang tidak pandai memilah akan tergiur segala hal yang boleh dikatakan serba murah, serba gampang, serba click, dan serba-serba lainnya.

Kembali pada pokok permasalahan akses transportasi yang serba mudah dan effisien dalam hal ekonomi dan waktu tentu akan menjadi sorotan pengguna dalam pemakaian. Lalu pengemudi yang buta aksara, buta teknologi, buta akses apabila ingin berkembang harus meninggalkan metode zaman dulu dan beralih  menggunakan metode modern untuk mendapatkan penumpang. Walaupun tidak dapat dipungkiri, kata-kata manjur dari Sang Pencipta yang berbunyi “rezeki sudah ada ngatur” menjadi landasan utama dalam mengais, tetapi apakah rezeki yang berlimpah itu tidak akan datang jika tidak berusaha mengikuti perubahan yang ada serta menjalani pancaroba yang semakin berkembang.

Ramai diperbincangkan, pengusaha taksi berbasis argo dan ojek pengkolan tampaknya mulai gelisah ketika pundi-pundi rejeki mulai diraup oleh taksi dan ojek online. Ladang penghasilannya mulai tergeser dengan maraknya transportasi online yang lebih praktis, ekonomis, serta jelas keamanan dan bahkan kenyamanannya.

Mengapa keamanan? karena melalui transportasi yang berbasis pada aplikasi tersebut, pengemudi yang akan mengantarkan pengguna lebih jelas identitasnya sehingga pengguna tidak perlu merasa was-was karena perjalanan kita terdeteksi oleh Global Positioning System (GPS).

Mengupas tentang kenyamanan, penumpang taksi dan ojek online lebih  diutamakan dengan menggunakan kendaraan pribadi untuk taksi khususnya dengan memakai mobil pribadi yang lebih nyaman dibandingkan dengan mobil taksi pada umumnya yang berlogo paten lambang perusahaan. Sisi kenyamanan lainnya adalah pengguna tidak dipusingkan masalah argo yang merangkak naik saat perjalanan terperangkap dalam kemacetan, sebab argo order hingga ke tempat tujuan akan sama tanpa mengalami kenaikan yang meroket, hal ini dapat dikatakan sebagai sisi ekonomis bagi pengguna.

Sementara itu, komponen praktis diperoleh dari azas easy to order via smartphone dengan cara memiliki akun pengguna aplikasi transportasi online supaya dapat mengakses dan memanfaatkan keberadaannya. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan transportasi online hanya dapat diaplikasikan di kota-kota besar dan tidak menampik bahwa ibukota provinsi menjadi ladang utama penggunaan transportasi onine. Siapa yang jeli membaca pangsa pasar tentu lebih maju serta dapat meraup keuntungan dalam menjemput rezeki.

Kembali pada bahasan praktis, keistimewaan lainnya yaitu melalui seluler cerdas (Smartphone) konsumen hanya menunggu pengemudi tanpa harus mencari karena dengan pengaturan lokasi pengemudi akan menjemput penumpang dengan cara via message dan telepon. Hal lain yang diuntungkan adalah pengguna dapat mengakses dan memanfaatkan kebutuhan lain selain transportasi yaitu order makanan, pulsa, kebutuhan kecantikan, tenaga kebersihan, paket barang, berbelanja, bahkan kebutuhan sekunder lainnya seperti nonton di bioskop, memburu tiket konser serta hal lain yang dapat diakses hanya melalui click dalam satu aplikasi saja yang awalnya berbasis transportasi  kemudian bertransformasi menjadi aplikasi online melayani kebutuhan manusia. Begitulah dampak dari inovasi yang terus menggerus metode tradisional. Sehingga yang masih menggunakan pola tradisional akan sangat jauh tertinggal bahkan terabaikan demi memenuhi kebutuhan yang serba cepat, serba praktis, dan serba ekonomis.

Kenyamanan dan kualitas merupakan tolak ukur dalam memuaskan hasrat pengguna untuk memenuhi kebutuhan dan bahkan memenuhi keinginan pengguna untuk order sesuai yang pilihannya. Semakin kaya improvisasi dalam aplikasi tentu semakin digandrungi pemakai kebutuhan serta dapat menarik minat  masyarakat untuk mengunduh aplikasi tersebut sebagai jalan untuk memenuhi kebutuhan. Maka tidak mengherankan apabila yang lawas akan tertinggal, bagi yang tidak ingin bersahabat dengan teknologi akan tergerus, dan yang enggan mengikuti perkembangan zaman akan buta wabah up to date.

Dengan adanya berbagai kemudahan melalui transformasi yang dihadirkan, semoga dapat membawa dampak positif serta tidak membuang kebudayaan bangsa sebagai ciri khas dalam bentuk identitas negara. Berharap dengan kecanggihan teknologi tidak serta merta membuat manusia menjadi manja dan malas untuk bergerak karena semua dihadirkan dengan praktis, walaupun mudah tetapi tidak memudahkan.

Penulis :
–    Nellia Ningsih (Alumni Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro)

Share this...
Print this page
Print
Categorised in: ,

No comment for Ketika Tradisionalisme Tergerus Realita Zaman

Leave a Reply