Menu Click to open Menus
Home » Tulisan Lepas » [Fiksi] Panggung

[Fiksi] Panggung

(652 Views) March 14, 2017 10:00 pm | Published by | No comment

~ Panggung ~

Lan menurunkan tangannya perlahan. Rasa pegal hinggap seketika menyapa bahunya. Kepalanya terasa berat. Sudah sekian tulisan selesai Lan kerjakan. Sekalian design sederhana untuk keperluan seminar baru saja ia selesaikan.

Lan lega. Malam ini semoga ia bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa kejaran deadline yang kalau ia mau,bisa saja ia anggap angin. Tak ada harga yang bisa ia harapkan sebagai pertukaran yang adil atas kerja keras dan sisihan waktunya.

Mengingat itu, Lan mengulas senyum. Bibirnya mengeja kalimat istighfar. Sejak kapan ia jadi berhitung dalam masalah seperti ini. Mata Lan bergeming. Mulai terasa laksana usai makan daun jambu klutuk saat Lan sakit perut. Kembali ia mendesis lirih. Lalu ia beranjak dari duduknya. Menuju tempat tidur, mematikan lampu lalu berbaring kekanan. Menelusupkan tangan dibawah guling kesayangannya. Matanya ia pejamkan.

*

” Aku gak ngerti sama kamu, Lan. Apa sih mau kamu?? Tak cukupkah semua acara kamu yang handle?? Tak cukupkah panggung yang sudah kau jajaki selama ini?? Tanpa kau mau memberi yang lain kesempatan?? Kamu itu udah terkenal. Berenanglah tanpa menenggelamkan orang lain!! ” Ucap Sarah tajam. Matanya menghujam kewajah Lan yang terpaku pada kejutan luar biasa dihadapannya.

Lan terpaku. Tanpa tau harus berbuat apa. Ekor mata nya masih menangkap kelebat gamis ceruty pink yang dipakai Sarah sebelum menghilang dibalik spanduk besar yang menutup mimbar khatib masjid beralas karpet hijau ini. Mimpi apa kau semalam Dylania Puspita???

Tiba-tiba suasana menjadi panas. Gamis abu-abu ini mendadak sempit. Lan berkeringat. Deras. Sederas degub jantung yang mengiringi sebuah hati yang tergores. Lan masih membisu.

” Cerita nya gimana sih, Lan?? Kok Sarah bisa meledak begitu?? ” Ifat membawakan Lan segelas air mineral.

Lan mencoba menyeruputnya sebentar. Hambar. Getir. Sekedar ia menelan ludah. ” Aku juga ga tau Fat ” ucapnya sekenanya.

*

Lan masih mencoba meraba-raba. Sulit baginya memiliki pikiran buruk tentang orang lain, apalagi kepada Sarah. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta pada dawah. Tapi, apakah ini jawaban semua lintasan pikiran Lan selama beberapa bulan ini??

Sarah yang nyaris tak pernah berkomentar lagi di grup WA. Respon sekedarnya bila Lan mencoba menjaprinya. Komentar -komentar yang tak pernah digubris oleh Sarah seperti yang dulu biasa dilakukannya. Amanah-amanah jamaah yang dianggap angin. Sarah seperti punya lingkaran lain yang tak mau disentuh Lan. Padahal lingkaran itu beririsan langsung dengan Lan, tanpa bisa dihindari. Sebab teman Sarah, adalah teman Lan juga.

*

” Mungkin ada baiknya, kamu lepas semua tanggungjawab kamu di acara seminar bulan depan Lan. Kita coba menyejukkan suasana. Menurunkan suhu dilingkaran kita. Semoga nanti Sarah bisa lebih optimal menunjukkan potensinya ” ucap Rinda bijak.

Lan mengangguk. Matanya kosong memandang rimbunan daun melati tanpa bunga yang bergoyang diterpa angin sore.

” Saya tau, Lan. Kamu itu baik. Bakat kamu dalam menulis dan membuat design mengagumkan. Unpredictable. Senang bisa mengenal akhwat dengan potensi hebat, namun ringan tangan seperti kamu ” Rinda mencoba menelisik hati Lan lewat tatapan ramahnya.

Lan menghela nafas. Masih banyak yang tak bisa dia mengerti.

” Saya tau, akan susah sekali buat kamu berprasangka baik pada diri kamu sendiri Lan ” Rinda tertawa kecil.

” Kamu sudah memikat kami semua Lan. Kamu sudah mengalahkan kedominanan Sarah sebagai motivator dan penangggung jawab acara yang handal ” gemas Rinda melihat keluguan Lan menafsirkan perubahan sikap Sarah pada nya.

Lan mengalihkan pandangannya pada wajah Rinda. Wajah gadis manis itu sumringah menatap Lan yang masih terlihat galau penuh kebingungan.

” So, is this all about?? Sarah yang jealous dengan kepopuleran saya?? How could be?? She’s still the leader. She’s still the one… ” pekik Lan perlahan.

Rinda tertawa renyah. ” So, kita skip aja bab jealously nya ya. Sekarang aku meminta dengan sangat, seminar bulan depan, kita serahkan urusan narasi, design dan penulisan press release nya ke Sarah. Deal?? ”

Lan tersenyum lebar. ” Deal ” ucapnya mantap. Matanya berbinar menatap langit senja yang kian jingga.

*

” Assalamualaikum, Lan… ”

Sebuah pesan singkat menyapa WA Lan. Sekilas nama pengirimnya tereja dilayar smartphone Lan, Clara Zein. Rekan Lan disebuah CV penerbitan.

” Waalaikum salam, Claire ” ketik Lan menyebut nama kecil Clara.

” Bisa bikin design buat lay out buku biografi pemilik brand Naraya Hijaab gak ?? Sorry agak dadakan ini. Bisa yaa ” pinta Clara .

Lan tersenyum. Dua hari lagi acara seminar sekaligus bedah buku penulis ternama yang sedang naik daun, pemilik Brand Naraya Hijaab. Tapi Lan berusaha tak terlibat didalamnya dengan alasan kesibukan mencari pekerjaan. Ada alasan mengapa ia tak membiarkan sahabat-sahabatnya dikomunitas mengetahui profesi Lan sebagai Ghost writer sekaligus designer grafis beberapa penerbit kecil. Lan ingin mengambil ladang amal dengan keahlian yang menurutnya masih jauh dari sempurna itu.

Lan menoleh sejenak pada grup WA komunitas yang sedang sibuk melakukan persiapan untuk seminar. Dilihatnya Sarah yang kembali atraktif lagi enerjik bolak balik memberi instruksi. Grup meriah kembali.

Lan menghela nafasnya. Ringan. Ikhlas. Seikhlas perasaan melepas panggung yang mestinya menjadi ladang amal berikutnya didunia. Biarlah untuk menyelamatkan sebuah jiwa. Mencegah sebuah hati agar terjaga putih tanpa noda. Lan tak harus merasa kehilangan. Ia yakin, Tuhan akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik dari sisiNya bila dirinya ikhlas.

Lan meraih laptop lalu memasukkannya kedalam tas ransel kesayangannya. Ia harus bergegas. Meninggalkan panggung yang satu menuju panggung yang lain. Panggung takdir yang dipersiapkan Tuhan pada semua hamba-hamba Nya.

Pada semua hamba-hamba Nya.

#maks

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

No comment for [Fiksi] Panggung

Leave a Reply