Menu Click to open Menus
Home » Hiburan » Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu (Bag #3)

Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu (Bag #3)

(1728 Views) August 10, 2015 2:48 pm | Published by | No comment

jasmine%20RF%206280653

Scene #2

Semalaman aku kembali susah tidur. Cerita ayah tentang keseriusan Nurman, jujur membuatku terngiang. Terbayang terus dikepala sampai kedalam tidurku. Kedalam bunga tidurku.

“Hai, siapakah namamu, wahai gadis cantik nan rupawan?”

“Hai juga, kamu siapa? Sepertinya wajahmu tak asing di mataku?’,

“Aku? ….Ah apakah kau benar telah mengenaliku?,” raut wajah pemuda itu terlihat sumringah.

“Iya, aku benar telah mengenalimu. Aku yakin sekali.”, aku menyambar dengan jawaban yang gugup sekali. Bahkan aku langsung mengatakan kalau aku ingin sekali lebih dekat mengenalinya.  Jantungku berdetak lebih kencang dari biasannya.

“Jujur aku ingin menjadi teman dekatmu, apakah kamu bersedia?’

“sungguh suatu penghargaan bagiku menjadi teman dekat seorang bidadari.”

Kata-katanya sangat lembut dengan timbre suara  berat khas lelaki. Pemuda penuh pesona dan romantis. Apalagi, kata-katanya berupa sanjungan. Sungguh membuatku terbang ke langit yang tinggi. Tiba-tiba saja aku melambung tinggi dan memiliki sayap yang Indah. Terbang bersama kupu-kupu raksasa yang warna warni.

Dan….

Bruuuukkk……krkkrkk

Aku jatuh terguling dari dipan tempatku terbaring. Tanganku sedikit terkilir menabrak pintu almari pakaian.

Huh….Aku terbangun dari tidur dengan perasaan kesal. Aku hanya bermimpi belaka. Rasanya aku ingin menangis. Aku membuang kesempatan emas begitu saja. Aku belum sempat menanyai siapakah namanya. Apalagi bilang jikalau aku menyukainya.

Waktu kira-kira masih dini hari. Suara jangkrik saling bersahutan diluar rumah. Satu jangkrik juga terdengar sangat keras tepat di samping tembok kamarku. Aku mencoba duduk lalu berdiri dan menggelungkan rambut panjangku yang sangat berantakan. Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Aku bergegas berdiri dengan bertumpu pada gagang pintu lemari pakaianku.  Ahh….kepalaku pusing sekali dan sangat mengantuk. Semua kenangan indah dalam mimpi tadi sungguh susah aku ingat. Aku berjalan pelan memutari dipan dengan agak sempoyongan lalu membuka jendela kamar.

Krreetth…..Suara jendela yang sudah merapuh saat kubuka.

Angin berhembus sepoi-sepoi memasuki ruangan. Suasana sangat tenang. Aku tengokkan wajah ke jam dinding. Waktu menunjukkan masih pukul tiga dini hari.

Aku melongokkan wajahku keluar. Aku lihat tak ada satupun tanda-tanda aktivitas  manusia di luar sana. Hanya suara jangkrik yang terdengar lebih keras dan kelelawar sesekali terlihat melintas. Aku mendongakkan wajahku ke langit. Aku suka melihat bintang dan rembulan di langit malam. Bahkan akhir-akhir ini hampir setiap malam aku melakukannya. Aku tersenyum saat mendapati rembulan yang purnama nan menawan.

“Hari-hari ini khan memang tengah bulan, wajar terjadi bulan purnama”, batinku.

Selang beberapa menit, aku bergegas menarik masuk kepalaku dan menutup pintu jendela. Aku bergegas keluar kamar menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu.

Saat kembali, aku sengaja memutar melewati lorong samping dapur agar dapat melewati samping kamar ayah ibuku, dan aku lihat lampunya menyala. Artinya, mereka juga dalam kondisi terjaga. Aku mengintip melalui lubang kecil di bilik yang terbuat dari anyaman bambu itu. Ahh…kebiasaan kecilku mengintip kamar ibuku. Aku ingat ibu pernah berpesan agar jangan suka mengintip kamar orang lain. Tapi aku selalu menghiraukannya. Walau sekarang aku sudah jarang melakukannya karena telah menyadari, tapi aku tak mengelak masih suka mengintip kamar ibuku saat lampunya menyala.

Aku lihat ayah masih tertidur pulas. Raut wajahnya kebetulan menghadap ke arahku. Aku dapat melihatnya dengan sangat jelas. Wajah ayahku sungguh teduh. Hanya saja memang raut wajahnya yang terlihat lebih tua dari teman seumurannya. Aku ingat Pak Kirno juga seumuran dia, namun wajahnya masih sangat segar dan terlihat muda. Pak Kirno memanglah orang yang berada dan tergolong terkaya di desa ini. Wajar saja mungkin dia memiliki kemakmuran dan perawatan diri yang baik. Sangat berbeda dengan kondisi ayahku. Tiap harinya pasti membanting tulang untuk bekerja.

Aku lihat tak jauh dari ayah tidur ada ibuku yang ternyata sedang sholat malam. Terlihat sudah duduk akhir artinya akan segera selesai. Benar saja tak begitu lama aku mendengarnya berdoa. Walaupun samar, aku menangkap kata-katanya. Aku fokus mendengarkan. Aku suka mendengarkan ibuku berdoa saat malam. Ibuku adalah seorang yang sangat rajin melakukan sholat malam. Sedari aku kecil dan masih tidur sedipan dengannya. Aku sering mendengarkan dia mamanjatkan do’a di sholat malamnya.

“Ya Allah Yang Maha Mengetahui. Ampunilah dosaku, dosa suaminku, dosa anak-anakku, doa orang tuaku, dan dosa semua keluargaku. Berikanlah kepada kami hidayah serta inayahMu. Jauhkanlah kami dari segala petaka dan mara bahaya yang senantiasa mengancam kami. Berikanlah kami kesehatan dan keberkahan umur……..”

Sangat panjang dan menyentuh. Dan ibuku selalu sampai meneteskan air mata saat berdoa. Aku hanya menangkap sedikit, dia juga menyebut namaku dalam doanya.

“…….Karuniailah anak gadis kami satu-satunya kebahagiaan. Dia adalah mutiara dalam hatiku, hati kami. Berikanlah dia ketenangan dan ketentraman hati. Terangkanlah setiap jalan yang diinginkannya Ya Allah azza wa jalla untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Karunialah dia jodoh yang terbaik, yang dia cintai dan juga mencintainya………”

Aku menitikkan air mata. Seperti ada hujan di hatiku. Aku terharu biru. Sebelum ibu menyadari aku berada di balik bilik, aku bergegas pergi dan menuju kedalam kamar. Sesampai di kamar aku sebenarnya ingin menangis sejadi-jadinya. Namun aku menahannya. Aku segera mengambil sajadah dari dalam lemari. lalu, menggelarnya dan memulai sholat malamku. Aku mengawalinya dengan sholat sunah taubat.

Setelah selesai sholat aku bersujud cukup lama. Aku berdoa sambil bersujud. Doaku tak begitu berbeda dengan doa ibu yang sering aku dengar. Namun kali ini aku menyebutkan nama seseorang. Nurmansyah Putra Sukirno. Aku memohon kejelasan kedalam hatiku atas izin dan kehendak Allah. Apakah Nurman adalah jodohku atau bukan. Aku memohon segera dikaruniai petunjukNya. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku menghabiskan sepertiga malamku dengan menangis sambil berdzikir dan menyandar disamping lemari. Hingga suara doa bangun tidur Mbah Bandi terdengar dari langgar. Dan saut menyaut suara pengajian dari kampung terdekat juga terdengar sayup. Artinya waktu fajar segera tiba.

Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwidhu kembali. Aku ragu apakah tadi sempat terlelap atau tidak. Kata pak ustad jika kita ragu apakah  wudhu kita sudah batal atau belum, lebih baik kita berwudhu kembali.

Saat berjalan pelan melewati ruang tengah, aku mendapati ibuku sedang menata sayuran ke dalam goni. Ohh..iya hari ini adalah minggu manis*, hari pasaran.

“Nik…kamu ikut ibu ya, dagangannya agak banyak hari ini.”

Nggih, buk.”

Aku bergegas untuk mengambil wudhu dan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Lalu aku mengambil mukena dan menunaikan sholat subuh. Setelah selesai sholat aku bergegas menata rambut dan memakai kerudung. Aku mengaca di depan lemari. Aku lihat wajahku terlihat segar. Aku rasa tak perlu berhias. Dan memang aku tak suka berhias. Aku lebih nyaman untuk tampil apa adanya namun bersih. Itu saja cukup menurutku.

Sejenak kemudian, aku tersenyum sambil menatap wajahku di dalam kaca.

Dalam hati aku berkata, “Bismillah, berjualan hari ini. Terima kasih Allah telah memberiku hati yang tenang dan wajah yang segar”.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Yang jelas hatiku begitu tenteram dan penuh gairah.

(Bersambung ke bag #4)

Catatan: *Manis: Merupakan suatu hari yang menandakan waktu yang bagus untuk berdagang (hari pasaran) menurut kebiasaan dan kalender orang suku Jawa.

Penulis: Ahmadun Al Rusdi. Terinspirasi dari kisah hidup Eyang Buyut saya dengan sedikit dramatisasi cerita dan dialog.

 

 

 

 

 

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

No comment for Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu (Bag #3)

Leave a Reply