Menu Click to open Menus
Home » Tulisan Lepas » Cerita Kampung Sorongan Yang Tak Pernah Mencecap Daging Kurban

Cerita Kampung Sorongan Yang Tak Pernah Mencecap Daging Kurban

(514 Views) August 25, 2016 2:26 pm | Published by | No comment

Cerita Kampung Sorongan Yang Tak Pernah Mencecap Daging Kurban

WhatsApp Image 2016-08-25 at 08.09.17

ACTNews, PANDEGLANG – Boleh percaya atau tidak, ketimpangan hidup di negeri ini nampak begitu mencolok. Sepertinya memang lembaran Rupiah bergambar para pahlawan itu hanya memiliki kesempatan untuk berputar dari kantong ke kantong para juragan di Ibukota saja. Bagi mereka yang tinggal jauh dari hiruk pikuk kota, menggenggam kemakmuran hidup hanyalah impian kosong yang terlalu tinggi untuk digapai.

Tak perlu melancong jauh untuk menemukan kenyataan ini, sebab hanya membentang garis lurus kurang dari 200 kilometer dari Ibukota Jakarta, derita sosial akibat ketimpangan ini nampak nyata di depan mata. Silakan berjalan mengarah terus ke arah ufuk tenggelam. Sampai di ujung barat Pulau Jawa, ada sebuah kawasan yang berbatas langsung dengan Selat Sunda, berdaulat sebagai titik paling ujung dari Pulau Jawa.

Adalah Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Lokasi ini sebetulnya tak begitu asing bagi kebanyakan pelancong yang menyukai kawasan terpencil. Sebab kecamatan ini menjadi pintu gerbang dari kawasan Ujung Kulon, lokasi pelestarian Badak Jawa, mamalia paling langka di muka bumi.

Meski aspal halus menghampar sepanjang jalan provinsi penghubung Pandeglang sampai ke Ujung Kulon, namun rupanya kemajuan zaman itu hanya berpihak pada tampak muka kawasan ini. Hanya “bungkus” di sepanjang tepian jalan utama yang dibuat makin molek. Di balik gunung dan bukit-bukit menghampar persis di sebelah jalan masih banyak kampung dan desa lain yang terpencil, tak tergapai sinyal telepon genggam, bahkan tak punya akses jalan yang layak. Jalan desa dan kubangan sungai tak ada beda.

Baru kurang lebih 3 tahun terakhir, akses jalan utama dari Kabupaten Pandeglang menuju Cibaliung ditambal ulang, dirapikan dan dihaluskan menggunakan aspal yang lebih baik. Sebelumnya, jalan ke Cibaliung hanya aspal seadanya dengan muka jalan yang lebih banyak lubangnya ketimbang jalan halusnya. Aspal seadanya itu pun sekian puluh tahun hanya sampai di titik sentral Kecamatan Cibaliung. Persis di muka pasar Cibaliung yang kini pun mulai menjadi korban dari keganasan penjajahan pasar modern berlabel al*amart dan in*omart.

Padahal dari Pasar Cibaliung masih membentang lagi lintasan jalur yang menghubungkan sembilan desa, meliputi Desa Cibaliung, Cibingbin, Cihanjuang, Curug, Mahendra, Mendung, Sorongan, Sudimanik dan Sukajadi. Baru tahun 2014 dan 2015 silam jalan menuju Desa Sorongan, Sudimanik, dan Desa Curug akhirnya resmi disentuh betonisasi jalan. Sebelumnya jalur menuju Desa Sorongan ini bagaikan kubangan sungai, hanya berupa batuan tajam tak berbentuk, seketika akan berubah menjadi “aliran sungai” jika hujan deras datang.

Akses jalan yang buruk sejak sekian dekade silam membuat deretan desa di pelosok Cibaliung pun mendekam dalam kehidupan masyarakat tani yang lambat. Mayoritas warga di balik bukit dan lembah itu pun tak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Akses jalan yang begitu vital tak terwujud sampai lebih setengah abad negeri ini merdeka. Imbasnya sampai hari ini, berderet masalah pemenuhan kebutuhan dasar terus bertumpuk di pelosok Cibaliung.

Menutup akhir Maret beberapa bulan silam, ACTNews menilik langsung bagaimana rupa rutinitas warga di Desa Sorongan, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sempat berbincang panjang dengan Yahod, selaku Sekretaris Desa Sorongan, Yahod mengurai berbagai cerita tentang rutinitas di tanah kelahirannya dalam beberapa tahun terakhir.

Selain masalah infrastruktur yang timpang, air bersih yang langka, rupanya kasus pemenuhan gizi pun membuat nurani bergidik. Yahod menuturkan, jarang sekali warga di desanya yang pernah terpikir menyesap nikmat daging ternak.

Nasi dan lauk ikan sungai menjadi menu andalan sepanjang tahun. Bentangan sungai lebar yang meliuk di sepanjang Desa Sorongan menjadi berkah, banyak ikan sungai air tawar berukuran sekepal tangan yang mudah dipancing.

Berlanjut kisah Yahod, kenyataannya nikmat daging memang langka bagi desa nihil sinyal telepon genggam ini. “Ah, daging kurban tidak pernah dikirim sama sekali untuk Sorongan. Sekali ada yang kirim itu dulu sekali, ada perwakilan dari partai Pak Kades yang kirim potongan daging kambing. Yang dapat juga hanya keluarga dekat pak kades,” tutur Yahod.

Sekian tahun, bahkan berselang dekade di tahun milenium, Sorongan tak pernah merasakan nikmatnya daging hewan ternak padat gizi macam daging sapi. Kesempatan momen idul kurban setahun sekali pun tak mengubah nasib Sorongan.

“Bukan hampir, sama sekali ngga pernah makan daging sapi kurban. Malah mungkin ada yang belum tahu juga bagaimana rasa daging kurban sapi. Keluarga saya bahkan belum pernah mencicip daging sapi. Paling mah di pasar Cibaliung adanya daging kerbau kampung. Itu juga daging kerbau cuma sampai di pasar saja, ngga mungkin sampai desa,” urai Yahod.

Ah, bagaimana nurani ini tak bergidik. Nyatanya sudah nyaris 71 tahun negeri ini merdeka, masih ada satu kawasan di pelosok Pulau Jawa, bahkan tak pernah tahu nikmat gizi dari daging sapi. Sorongan hanya secuil contoh dari ribuan desa lain yang terlupa di balik rimbunan kota besar. Katanya negeri ini kaya? Betulkah demikian?

Harga Hewan Qurban ACT :
Kambing : 1.750.000
Sapi Retail : 1.750.000

Konsultasi Qurban
Budiman ACT
HP/ WA 081 721 4843

Share this...
Print this page
Print
Tags: , ,
Categorised in:

No comment for Cerita Kampung Sorongan Yang Tak Pernah Mencecap Daging Kurban

Leave a Reply