Merdeka, Gundulmu….!!

Merdeka, Gundulmu….!!

Merdeka, Gundulmu....!!
Membaca tulisan seorang cokin, Zen Wei Jian yang berjudul Political Clown alias Politik Badut, saya jadi percaya satu hal, dalam hidup ini, apa sih yang ga bisa direkayasa ??? Termasuk diurusan berbangsa dan bernegara.

Konon kabarnya, sosok Jokowi udah di”siapkan” dari awal tahun 2000-an. Jadi doi ga ujug-ujug jadi Walikota Solo, terus jadi Gubernur Jakarta, melesat jadi RI 1. Tokoh Ahok juga 11-12. Lha, emang saya, tahun 2012 baru tau di planet tetangga ada orang yang nama nya Ahok. Ternyata dia juga bukan sosok baru dikancah perpolitikan tanah air. Daftar hitamnya udah bejibun di Bangka-Belitung. Ihhh…

Dulu saya pikir, soal sadap menyadap, spionase, sabotase, intrik politik mister big man behind the goverment itu cuman ada di filem-filem kedemenan saya, macam Sekuelnya Jason Bourne, The Enemy of the states, atau Mission Impossible. Tau nya, emang beneran adanya.

Inget akun trio macan yang sempet nge bom jagad dunia twitter dengan gossip-gossip tingkat dewa yang pelan tapi pasti menjelma jadi realita ??? Itu bukti kecil tentang keberadaan rekayasa bernegara. Siapa yang mau jadikan penghuni penjara, bagaimana kasusnya, mau ditangkap dimana , tahun berapa dan berapa tahunnya, semua bisa diatur 5- 10 tahun sebelumnya.

Fenomena Jokowi yang katanya bokapnya terkait PKI, atau LHI yang kenal Fathonah ditempat kuliah, bahkan Archandra yang punya kewarganegaraan dua juga bisa jadi udah diatur sedemikian rupa sama big man behind the scene sana naahhh….

Saya jadi ingat kalau Indonesia tercinta, tanah air beta pusaka abadi nan jaya  hari ini merayakan hari kemerdekaan nya, ternyata belum bisa dibilang merdeka. Bahkan kalo boleh miris bilang, makin tua Indonesia makin terjajah…!!!! Terjajah kepentingan asing dan aseng yang mencengkeram Indonesia dengan kuku-kukunya yang tajam menghujam, melukai kemanusiaan dan harga diri. Lebih miris lagi, anak-anak bangsa ini tidak peduli. Asyik dengan obsesi dan ambisi pribadi. Mungkin nenek moyang kita jauh lebih ” mudah” menyatakan perang terhadap musuh negara. Sedangkan kita sekarang ??? Musuh kita berbaju sama dengan kita. Dengan rela negara kita diperjualbelikan, dengan ringan kita melepaskan satu demi satu asset kekayaan negara tanpa rasa berdosa. Indonesia nyaris tak berdaya.

Saat ini, negara berada digenggaman penguasa media, yang payahnya, mereka tidak memiliki rasa idealisme dan nasionalisme yang besar untuk tanah airnya. Mereka bekerja membela penguasa, penguasa yang mampu memberi mereka bayaran paripurna bagi segala bentuk layanan jasa penghancuran yang masif ini.

Indonesia dipertaruhkan dengan mudah, dalam genggaman, dari ujung-ujung jempol pengembara dunia maya yang terlanjur terlena.

Seperti kata Bang Haji Rhoma, yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin. Yang benar dipenjara, yang kalah tertawa.

Yang waras memilih diam, yang setengah waras demen mencak-mencak dan kumur-kumur trus nyembur kesegala penjuru, yang kurang waras sibuk petantang-petenteng narsis menikmati kursi empuk sajen Jepang yang udah menuhin jalan sampe bejibun. Yang gak waras sibuk mainin jempol, walaupun pengamatan dan protesnya tenggelam ditengah isu kopi beracun, dan anak ustadz terkenal berani nikah muda ama konglomerat Cina. Sementara kaum ga waras ini, kadang fifty-fifty beli beras ngalahin beli pulsa biar bisa tetep eksis menulis. 😅

Ahh..Indonesia. Benarkah Engkau sudah merdeka ???
Liat anak-anak bangsa mu, merayakan ulang tahun kemerdekaanmu dengan selebrasi wajib panggung hiburan, makan kerupuk, balap karung , panjat pinang dan masukin paku kedalam botol. Mungkin kah itu wujud nyata wajah Indonesia yang sebenarnya ???

Renyah dan garing saat baru, melempem kalo kena angin, lembek tersiram air. Atau begitu sulitnya mengejar kesempatan karena enggan melepaskan beban dan zona nyaman.
Atau beratnya mencapai posisi puncak karena jalan menujunya begitu licin, ditambah sifat egois yang selalu ingin mengalahkan, bukan bekerja sama mencapainya.
Atau kita memang lebih senang memenangkan nafsu syahwat dan perut, padahal kalo sudah melewati perut hanya akan menjadi sesuatu yang sangat menjijikan untuk disebut.

Media itu sarana. Kalo musuh menjadikannya senjata, kita harusnya bisa menjadikan senjata yang memakan sang tuan. Lawan…!!!! Walau susah payah dalam perjuangan, sampai bertaruh nyawa dibadan. Anak keturunan kita akan mengenang kita sebagai sosok pahlawan. Dan itulah yang telah dilakukan oleh Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro, Tjut Nyak Dien dan kawan-kawan.

Tapi sekali lagi, sudahlah. Inilah Indonesia di 71 tahun kemerdekaannya. Walaupun kalau bicara tentang kehidupan vital anak-anak bangsa yang masih amat susah dalam menjalani kesehariannya. Dari jam ke jam. Waktu ke waktu, tahun demi tahun. Kemerdekaan itu begitu jauh dari kenyataan.

Jadi kalo ada yang meneriakkan kata merdeka pada mereka, mereka akan menjawab, ” Merdeka, Gundul mu……!!!! (mak)