Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu (Bag #2)

Untitled-1

Scene #1

Sudah sebulan aku tak bertemu dengannya lagi. Sejak pertemuan tak sengaja di sungai waktu itu, aku memang tak pernah melihatnya. Pemuda kampung itu. Wajahnya sangat tampan dengan perawakan yang gagah nan tinggi. Kulitnya sawo matang dengan alis yang tebal dan hidung yang mancung. Sungguh susah menemukan pemuda dengan wajah semenarik itu di daerah sini.

Mungkin cukup banyak yang tampan. Pemuda-pemuda yang ingin meminangku juga kebanyakan berwajah tampan dan kaya. Maksudku pemuda itu sangat baik hati dan murah senyum. Walau saat itu baru pertama kali kita bertemu, namun seakan kita telah lama saling mengenal. Saat itu juga, aku ingat di medio November, aku terkesan dengan seorang pemuda.

Saat itu aku juga sekilas memandang wajahnya. Tampak sayu dan berkharisma. Hatiku berkata “Oh, Tuhan. Maha indah ciptaanMu!”. Apakah itu artinya aku hanya tertarik akan tampangnya? Oh tidak kawan, aku sangat tertarik dengan unggah-ungguh dan senyumannya. Dan cara bicaranya.

Tapi sayang sekali, kita bertiga saat bertemu di sungai waktu itu tak sempat berkenalan. Siapakah namanya. Dimana kampungnya. Atau apa sajalah tentang identitasnya. Dalam hati, aku sangat menyesal. Aku selalu menyelipkan dalam setiap do’a. Semoga aku bertemu dengannya lagi.

Tapi, mengapakah aku ingin sekali bertemu dengannya lagi. Siapakah diriku ini. Huh, mungkin kah aku tertarik dan jatuh cinta dengannya dengan hanya sekali tatapan saja? Apakah dia masih lajang atau sudah berumah tangga? Mengapa aku jadi kacau seperti ini?

Jujur saja, sebulan ini aku sibuk menata hati. Aku seorang gadis yang ingin dimiliki banyak pemuda. Namun, aku hanya mengharapkan seorang saja. Pemuda desa itu. Walau hanya untuk bertemu dan menatap wajah eloknya. Oh, sungguh menyedihkan sekali aku ini. Menjadi seorang gadis hanya dapat patuh dan menunggu. Patuh untuk dijodohkan dengan orang yang tidak tentu kita sukai. Dan menunggu akan pinangan pemuda yang kita inginkan dan kita cintai. Inilah suratan takdir, yang sebulan terakhir ini sangat aku rasakan. Sesekali sungguh menyiksa batinku untuk menyimpan perasaan yang tak pasti seperti ini.

Dalam hitungan hari, usiaku akan menginjak 20 tahun. Angka yang pas bagi seorang wanita untuk menikah. Bahkan di kampungku, sudah termasuk kelewat berumur. Disini rata-rata umur 12 sampai 15 tahun sudah banyak yang menikah. Gadis desa memang tidak seperti anak kota yang sanggup tetap tenang untuk menikah di usia yang matang atau mungkin kelewat matang. Di kampungku, saat usia menginjak 15 tahun saja kita “dipaksa” untuk segera menikah. Biasanya kami, para gadis desa, akan dijodohkan oleh orang tua. Mereka akan mencarikan jodoh untuk kami dengan keluarga yang mereka kenal. Tidak ada kata jatuh cinta di hati kami para gadis desa. Kami akan dinikahi oleh pemuda yang telah dipilih oleh orang tua kami. Dan kami harus menerima serta menjalaninya.

Ya…seperti itulah adanya. Namun, entah apa yang terjadi pada diriku. Aku seperti enggan menikah saat ini. Aku harus menemukan pemuda itu. Setidaknya aku dapat berkenalan dengannya. Dia memiliki kesalahan karena telah menggores hatiku, Dia telah mencuri sepotong hatiku. Dimanakah kamu, wahai pemuda yang terus melingkupi hati ini dengan misteri?

“Nik, sini bantu ibu!”, suara ibu membuyarkan lamunanku. Tak kusangka aku sempat tertidur di pintu jendela karena terlalu lama berpikir dan melamun. Membayangkan pertemuan yang indah dengan pemuda misterius itu. Kami berdua duduk bersama di kursi yang sangat indah berwarna emas dan perak. Di sekeliling kami tertata bunga-bunga yang indah warnanya. Tersusun rapi membentuk lansekap yang tidak sering aku jumpai di desa tentunya. Di atapnya ada kain sutra berwarna kuning yang tersinari lampu kristal dan pancaran matahari. Sungguh tempat yang indah. Apakah ini syurga, batinku waktu itu.

“Iya, Buk. Segera kesitu. Maaf, Nik tertidur sejenak!” timpalku cukup lantang dari dalam kamar.

Bergegas aku menata tambutku yang berantakan. Aku tengokkan wajahku ke kaca lemari. Ah, terlihat kusut. Aku kucek mataku yang agak memerah dan berkantung. Wajahku terlihat kusam. Sepertinya akibat aku sering merenung dan bangun tengah malam untuk berdoa. Berdoa agar hatiku tak tertekan. Agar aku bisa sabar dan menjalani hari demi hari jikalau akhirnya aku menikah dengan pemuda pilihan ayah ibuku.

Aku bergegas keluar kamar menuju ke dapur. Benar saja ibuku sedang berada di dapur dan baru saja kembali dari sawah.

“Kamu masak ya Nik, ibu cukup lelah. Sementara hari sudah sore, ayahmu akan segera pulang,”

Nggih buk,” aku tak banyak bertanya. Aku lihat mimik ibuku berubah saat menatapku. Namun, dia tak sempat bertanya karena sebentar lagi tiba waktu Ashar dan dia bergegas membersihkan diri.

###

Selepas sholat maghrib, kita berkumpul dan makan bersama di ruang tamu. Ada ayah, ibu, dan aku. Hanya bertiga. Aku memang anak tunggal. Kata ibu dulu aku punya kakak dan adik, namun meninggal di waktu kecil. Aku tidak begitu ingat.

“Nik, bagaimana pilihan ayah. Menurut ayah, lebih baik kamu pilih Nurman saja. Dia kemarin kembali menemui ayah di sawah. Dia bilang akan menikahimu segera jika kamu menerima pinangannya. Ayah lihat dia pemuda yang baik. Keluarganya juga terpandang. Walau kita miskin, setidaknya kamu hidup bahagia kelak dan berkecukupan”

Ayah, entah mengapa telah kesekian kalinya membujukku. Kali ini aku tersentuh. Aku melihat kondisi beliau yang memang telah beranjak menua. Badannya menghitam dan tidak sekekar dulu. Itu karena dia yang sangat bekerja keras akhir-akhir ini. Bisa jadi juga karena diriku. Memikirkan diriku dan cibiran masyarakat akan diriku. Dia memilih banyak menghabiskan waktu di sawah. Berangkat setelah sholat shubuh dan pulang menjelang senja. Bebarapa kali aku mendapati setelah Maghrib dan selepas Isya baru sampai di rumah. Oh, ayahku yang aku cintai. Maafkanlah anak gadismu ini. Mungkinkah aku terima saja, pinangan Nurman?

(Bersambung ke bag #3)

Penulis: Ahmadun Al Rusdi. Terinspirasi dari kisah hidup Eyang Buyut saya dengan sedikit dramatisasi cerita dan dialog.