Menu Click to open Menus
Home » Opini » Bukan Kata ‘Organik’-nya, Tetapi Sehatnya

Bukan Kata ‘Organik’-nya, Tetapi Sehatnya

(643 Views) April 2, 2016 8:31 am | Published by | No comment

Bukan Kata ‘Organik’nya, Tetapi Sehatnya

Perdebatan tentang pertanian organik, pangan organik, terus saja digulirkan oleh beberapa pihak. Entah mengapa kata organik ini harus terus diperdebatkan. Padahal sesungguhnya kita harus melihat apa latar belakang penggunaan kata organik untuk pertanian dan perkebunan.

Mediatanam_resize

Kata “Organik” memiliki beberapa arti:
1. Menurut KBBI:
a. Berkaitan dengan zat yang berasal dari makhluk hidup (hewan atau tumbuhan, seperti minyak dan batu bara.
b. Berhubungan dengan organisme hidup.

2. Dalam pelajaran ilmu kimia, kata organik (senyawa organik) menyatakan segala sesuatu yang mengandung unsur karbon.

3. Organik bermakna pertanian yang dipupuk dengan pupuk alami, berasal dari tumbuhan dan hewan (kompos, dll). Pertanian organik juga tidak menggunakan pestisida/herbisida sintetik/formula yang beracun.

4. Organik bisa juga menyatakan bahwa suatu barang atau peralatan berasal dari satuan atau organisasi resmi. Senjata organik artinya jenis senjata yang dipakai oleh satuan militer atau kepolisian di negara tertentu. Dengan memeriksa proyektil peluru, misalnya, suatu perkara dapat ditentukan melibatkan senjata organik atau tidak, sehingga dapat disimpulkan siapa yang mungkin menjadi pelakunya: sipil atau militer/kepolisian.

Jadi, tidak perlu lagi diperdebatkan atau alergi dengan kata Pertanian Organik, bahwa tidak ada yang namanya pertanian organik, misalnya karena unsur-unsur pupuk yang terkandung di dalamnya tidak mengandung unsur KARBON. Kata organik dalam pertanian adalah mengacu kepada pertanian yang dipupuk dengan pupuk alami, dimana pupuknya berasal dari tanaman dan hewan, yang diolah sedemikian rupa, tanpa pestisida, atau lebih tepat disebut PERTANIAN ALAMI DAN RAMAH LINGKUNGAN.

Kata organik sudah kadung diterapkan sebagai pengganti dari kata pertanian alami dan ramah lingkungan, sebagaimana halnya kita menyebut pasta gigi dengan odol, atau pompa air dengan s****, atau air minum kemasan dengan a***.

Sebenarnya, yang paling penting dari pertanian atau perkebunan itu bukanlah soal definisi organik atau bukan, tetapi adalah bagaimana kita sebagai petani menyediakan pangan halalan dan toyyiban (halal, sehat, dan menyehatkan), bukan pangan yang mengadung racun dan berbahaya buat tubuh.

Demikian pula, kita jangan terlalu dibuat ribet dengan persoalan sertifikasi organik, atau memandang bahwa organik sekarang menjadi sarana bisnis, dll. Yang penting, sekali lagi, tanaman kita diolah dengan cara alami sehat dan menyehatkan. Organik tidak harus mahal, bahkan semestinya menjadi murah. Karena dengan kembali ke organik, biaya tanam menjadi murah, dan hasil menjadi meningkat.

Jadi, semangat pertanian organik sebetulnya adalah menyediakan pangan sehat dan berkualitas dengan harga terjangkau bagi bangsa Indonesia, jika ada sisa, barulah kita ekspor. Pangan yang bagus, harusnya buat bangsa sendiri terlebih dahulu.

Salam, Kang Eep
Swadaya Petani Indonesia

Share this...
Print this page
Print
Tags:
Categorised in:

No comment for Bukan Kata ‘Organik’-nya, Tetapi Sehatnya

Leave a Reply