Menu Click to open Menus
Home » Hiburan » Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu

Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu

(2575 Views) July 27, 2015 10:29 am | Published by | 2 Comments
kartun2

ilustrasi

Prolog# Kembang Desa

Hatiku bersih. Hatiku suci.

Apa ada hati yang ikhlas. Jika memang ada, mungkinkah aku salah satunya?

###

Aku seorang gadis desa yang kata orang memiliki sejuta pesona. Kata orang aku ini kembang desa. Aku tak bermaksud sombong. Aku hanya menyampaikan apa kata orang saja. Memang kalau aku bercermin sepertinya paras wajahku lumayan. Kulitku berwarna putih bersih dan berhidung mancung serta memiliki bulu mata yang lentik dan bola mata kecoklatan. Tapi aku merasa cukup banyak cewek yang cantik-cantik di kampung menurutku. aku tak tahu mengapa mereka tertarik padaku.

Memang banyak, namun aku tak sempat menghitung pastinya, pemuda yang menyukaiku. Bahkan beberapa diantaranya telah  meminangku. Memintaku untuk menikah dengannya. Mereka semua serius. Terlihat meyakinkan. Beberapa aku lihat dari keluarga terpandang dan berada.

Terus terang, aku belum menemukan satupun yang pas dihati. Jika menerima salah satu dari mereka mungkin aku akan bersinar. Aku akan menjadi orang yang berada. Mereka jua berjanji, akan menyintaiku selamanya. Akan menjaga hatiku.

Sesekali aku terenyuh. Tapi ternyata hatiku tak terketuk pintunya.

Pendek kata, banyak pemuda yang aku tolak.

Ayahku. Orang yang keras, memang selalu menekanku. Memintaku segera menikah. Dia sering bilang kalau dia malu dengan para tetangga yang selalu menggunjingkan keluarganya. Katanya warga risih dengan silih bergantinya pemuda yang menghampiriku. selalu ada setiap harinya. Tidak hanya sekampung, tetapi banyak juga yang berasal dari lain desa dan luar kota. Jadi bisa kau bayangkan, betapa tersohornya diriku.

Aku anak perempuan dan telah cukup umur. Karenanya, aku tak pernah menyalahkan atau melawan ayah sedikitpun. Wajar sebagai orang tua berbuat demikian. Kesekian kalinya ayah memintaku untuk menerima saja salah satu dari mereka.

Namun aku bergeming. Aku tak bisa dipaksa. Aku ingin cinta.

###

Suatu sore aku memilih mencuci baju sambil menghibur diri di sungai cukup jauh dari kampung. Aku sengaja mengajak Salma dan Lastri, karena anak perempuan rawan pergi sendiri, apalagi ke tengah hutan dan sungai. Selain itu, aku juga ingin bertukar pikiran dengan kedua sahabatku itu.

“Nik, kenapa tak kau terima saja si Nurman, dia lelaki yang baik sejauh aku tahu. Dia juga sudah tampan dan mapan, tho?”, Salma memulai pembicaraan sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rumput.

Ndak Ma, aku belum bisa. Batinku berkata tidak”, aku menyautnya.

“Ayahmu piye, Nik? Dia bukannya sering marahin dan nekan kamu. Mungkin memang dia malu, lha wong banyak banget cowok yang kerumah, bahkan beberapa udah melamarmu”, timpal Lastri.

Ndak papa Las, ayah sedikit banyak ngertiin aku kok. Memang dia kesal. Tapi dia sangat menyayangiku”

Beberapa saat lagi sampai ke sungai. Mereka nampak berjalan lebih cepat. Biasanya mereka akan duduk dulu di batu Antik, sebuah batu besar yang mereka namai. Biasanya mereka akan bercerita dan bersendau gurau. Tapi kali ini sepertinya ada sesuatu yang menarik kaki mereka. Dari kejauhan mereka melihat sesosok pemuda gagah yang sedang duduk di tengah sungai. Nampaknya  mereka bertiga tak mengenalinya. Wajahnya juga samar karena dia memakai caping.

(Bersambung ke bagian 2)

Penulis: Ahmadun Al Rusdi. Merupakan cerita bersambung (cerbung) dan kisah nyata dari seorang wanita hebat. Eyang buyut saya. Dengan sedikit dramatisasi cerita dan dialog.

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

2 Comments for Sebuah Kisah Nyata: Putih Hati Wanita Madu

Leave a Reply