Cinta Pada Sepotong Bakwan

[Serial Cinta : Dinda & Kanda]

Cinta Pada Sepotong Bakwan

Cinta Pada Sepotong Bakwan

Kanda dan Dinda, pasangan muda yang baru seumur jagung sukses menaiki jenjang pelaminan, di pagi yang syahdu merindu terlibat dalam sebuah obrolan mesra.

“Kanda mau sarapan apa sebelum berangkat kerja?”
“Emmm… kayaknya nggak usah dulu dinda, masih belum lapar”
“Kalau gitu, dinda ke warung sebelah dulu ya, beli sarapan”
“Silahkan dindaku sayang…..,” sambi mencubit kecil pipi istrinya sebelum berlalu.
“Sakit tau ih….,” sambil balas memukul-mukul lengan suaminya manja.
————- **

“Laper sangat sepertinya istriku tercinta,” melihat istrinya makan dengan lahap.
“Lumayan,” menjawab cuek sambil terus melanjutkan makan.
SAYUUUUURRRRR…..YUUURRRRR…….YUHUUUURRRRR
(Teriakan khas si abang sayur yang biasa ngider di kompleks mereka)
Dinda tergagap sesaat
“Wah, tukang sayur udah lewat kanda, dinda sarapannya di ‘mute’ dulu yah, dilanjut nanti. Hari ini kita masak kesukaan kanda, sayur rebung, sambal dan lalap.”
“Nah…kalau gitu nanti kanda pulang lebih awal yah”
“Koq gitu?!”
“Jangan sampai kehabisan sayurnya,” sambil tertawa sedikit terbahak.
“Dasar, ih. Tapi ingat yah, sarapan dinda jangan dihabisi,” dinda berlalu mengejar tukang sayur langganan.
“Siyap lapan anem” sambil nyengir kuda
————**

Awalnya, kanda tak bergeming menyaksikan istrinya tercinta menikmati sarapan pagi. Namun tiba-tiba perutnya melilit, cacing-cacing di perutnya mulai break-dance, salto dan menendang-nendang.
“Masya Allah, koq tiba-tiba laper…” gumamnya.
Matanya tertuju pada sepincuk nasi uduk istrinya, dilihatnya ada bakwan yang sudah dimakan 2/3 oleh istrinya.
“Ah….ini ajalah lumayan buat ganjel perut” dilahapnya bakwan yang berada di pincukan nasi uduk sang istri.
————**

“Assalamu’alaikum kanda…” Dinda memasuki rumah dengan wajah sumringah.
“Wa’alaikumussalam, cintakuh” Kanda menimpali.
“Alhamdulillah, blanjaan kita komplit. Sepulang kerja jangan makan diluar yah…apalagi jajan” pesan istinya.
“Tentu doooong, kalau gitu kanda berangkat dulu ya…” dikecupnya tipis kening istrinya, dibalas dengan ciuman tangan mesra.
“Eit tunggu kanda,…sepotong bakwan yang udah dinda makan mana??” Deggg…tiba-tiba jantung kanda seakan berhenti berdetak sesaat.
“Eeeh anu iya, barusan kanda makan tadi….”
“Yah kanda, itu kan udah ga ada lagi. Tinggal satu-satunya, lagian kan udah dinda gigit, koq kanda makan?”
“Abis kanda cinta banget sih ama dinda…”
Giliran kanda mendapat cubitan pipi dari istrinya sesaat sebelum meninggalkan rumah bertuliskan ‘Baiti Jannati’.
——————**

Masud Khan
Antara Karawang-Bekasi, 15 Maret 2016 Pkl 09:09Wib

Share this...
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Print this page
Print

Leave a Reply