Menu Click to open Menus
Home » Komunitas » Siska Chindy Dilla, Profil Seorang Pejuang dari Cikarang

Siska Chindy Dilla, Profil Seorang Pejuang dari Cikarang

(1892 Views) February 8, 2016 10:53 am | Published by | No comment

Siska Chindy Dilla, Profil Seorang Pejuang dari Cikarang

Siska Chindy Dilla dilahirkan di Bekasi pada 28 Agustus 1995 dari pasangan bapak Nesin dan ibu Khodijah. Anak kedua dari tiga bersaudara, saat ini sedang menempuh Pendidikan Strata satunya di Perguruan Tinggi STKIP Siliwangi Bandung dengan mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Siska begitu ia biasa disapa sebelumnya adalah Siswa lulusan MI Tarbiyatul Islam dan lulusan SMPN 2 Cikarang Utara, saat menempuh pendidikan dasar tersebut, Siska adalah salah satu lulusan terbaik di sekolah tersebut.

Siska Chindy Dilla, Profil Seorang Pejuang dari Cikarang

Kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas di SMAN 1 Cikarang Timur. Di SMA ini, Siska juga dinyatakan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Saat masih SMA Siska mengikuti organisasi Pramuka, disini ia juga menorehkan beberapa prestasi terutama dalam bidang Intelegent Of Scout. Ia pernah membawa sekolahnya menjadi juara 1 selama dua tahun berturut-turut dalam Lomba Tapak Penegak bidang Smart Serial Scout se-Kabupaten Bekasi.

Dalam kegiatan Pramuka ia juga pernah mengikuti Perkemahan Tigkat Nasional di Semarang yaitu Kemah Kesehatan Nasional ke II di Bumi Perkemahan Chandra Birawa Semarang Jawa Tengah pada November 2013. saat itu ia adalah satu dari 16 orang perwakilan dari Bekasi yang berpusat di Bapelkes Cikarang.

Selain di Pramuka ia juga pernah mengikuti Lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kabupaten Bekasi pada bidang Fisika, saat SMP ia juga ikut OSN dan berhasil meraih juara tiga di bidang Biologi. Selama SMA juga ia pernah diajak untuk lomba Fisika yang dilaksanakan universitas di Indonesia yaitu UIN Sunan Gunung Jati dan Universitas pendidikan Indonesia, namun memang belum menjadi juara di event tersebut.

Prestasi lainnya adalah ia pernah menjadi siswa teladan selama dua tahun di sekolahnya. Semua prestasi tersebut tidaklah diraihnya dengan mudah tetapi penuh dengan perjuangan, kata Siska yang ia kutip dari Novel Bang Fu’adi, Novel Negeri 5 Menara “Going to the extra miles” yaitu berjuang diatas rata-rata orang lain.

Jika orang memulai dengan berjalan maka kita harus memulai dengan berlari untuk melakukan percepatan, selangkah lebih maju dan melakukan usaha yang lebih untuk dapat meraih yang diimpikan, begitu lanjutnya.

Siska ketika dirumah biasanya mengabiskan waktunya dengan membantu pekerjaan rumah dan mengerjakan tugas sekolahnya. Namun setiap ba’da maghrib di Mushala Al-Hikmah di kampungnya, Siska juga membantu mengajarkan anak-anak dikampunya untuk mengaji Al-Qur’an, hal ini dilakukannya karena melihat anak-anak dikampungnya yang memang masih belum bisa dalam membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan Tajwidnya.

Ada yang masih belajar Iqra’ dan ada pula yang memang sudah bisa membaca Al-qur’an. Setelah kegiatan mengaji selesai, anak-anak biasanya melanjutkan dengan mengerjakan PR dari sekolah, sehingga mereka bisa saling belajar bersama. Kegiatan mengajar tersebut Siska lakukan semenjak ia sekolah SMP sampai SMA. Ketika lulus SMA kegitan tersebut dilanjutkan oleh murid yang dianggap sudah bisa mengajarkan anak-anak mengaji yaitu Linda, Risma dan Manah.

Masa terberat yang dihadapi Siska adalah masa transisi ketika lulus SMA, semua orang tahu bahwa setiap orang menginginkan hal yang terbaik dalam hidupnya, menginginkan segala impian dan cita-citanya tercapai, menginginkan jalan yang terang dalam hidupnya.

Ini juga yang ada dalam pikiran Siska ketika ia lulus SMA, ia sangat ingin sekali melanjutkan pendidikanya ke jenjang yang lebih tinggi karena ia percaya bahwa dengan pendidikan tinggi ia akan mampu mengubah keluarga dan orang-orang disekitarnya.

Perjuangan pada masa transisi dimulai ketika ia mendaftar melalui SNMPTN tetapi ia tidak lolos, Siska tidak menyerah “masih ada pintu SBMPTN” pikirnya. Siska habiskan waktu setelah dinyatakan lulus dari SMA untuk belajar SBMPTN, namun lagi-lagi ia tidak lulus di SBMPTN. Ini adalah penolakan yang ketiga kalinya, yang pertama sebelum SNMPTN adalah ia tes masuk seleksi Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS).

Siska mengambil panitia lokasi (panlok) Bandung karena tes bertepatan tanggal 9 Mei dan saat itu sedang ada perpisahan kelulusan SMA di Jayagiri Lembang. Dijadwalkan kegiatan pelulusan tersebut Malam harinya diadakan Ceremonial dan pagi harinya pergi ke lokasi wisata yang ada di Bandung. Namun Siska dan dua orang temannya, Lia dan Ade tidak ikuti pergi ketempat wisata. Pagi-pagi buta mereka sudah bangun dan siap untuk berangkat tes di Gor Cikutra, Bandung.

Disaat teman-teman lain masih tertidur akibat bergadang tadi malam, atau berfoto-foto ria di sekitar penginapan, Siska dan dua temannya sudah harus berjuang menaikan bendera masa depannya “selangkah lebih maju” mungkin itu yang ada dalam pikinran mereka bertiga. Sesampainya dilokasi tes, mereka tercengang karena begitu banyak orang yang mengikuti tes tersebut, “entahlah” itu baru di daerah Bandung saja belum di daerah lain di seluruh Indonesia.

Siska sudah membayangkan bagaimana pelung diterimanya ia di Perguruan Tinggi Ikatan Dinas tersebut. “usaha dulu yang penting, rizki mah Allaah yang ngatur”. Setelah tes selesai Siska dan temannya tanpa alamat yang pasti menuju lokasi dimana teman-teman lainnya berada, Dago. Dengan naik mobil angkutan umum dan ojeg akhirnya ia berhasil menemukan lokasinya. Dua minggu berselang tepat pukul 00.00 WIB pengumuan seleksi tahap I STIS dapat dilihat diwebsite, Siska pun melihat ternyata dan itu adaah penolakan PT pertama yang ia terima.

Setelah tiga penolakan tersebut Siska move on mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Mandiri, UMBPTN yang menjadi target selanjutnya. Siska mengambil Panlok di Tanggerang, Banten karena panlok Bekasi sudah penuh. Pengalaman yang berbeda ia rasakan ketika ia harus menginap di suatu masjid di daerah Tanggerang – Masjid Jami Al Itihad- agar besok bisa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di SMAN 1 Tanggerang, Banten.

Ketika akan berangkat menuju tempat tes, Siska tidak memberitahu orang tuanya kalau ia akan berangkat tes sendirian ke kota orang karena Lia yang tadinya akan ikut tes tetapi tidak jadi mengikuti karena dilarang ibunya kalau harus menginap tanpa alamat. Dengan modal alamat pada kartu pesertanya, Siska meyakinkan diri untuk berangkat sendiri tetapi karena ia jujur kalau ia akan berangkat sendiri maka ayah Siska memaksa untuk ikut menemani ke Tanggerang.

Orang tua mana yang tega melihat anaknya pergi sendirian ke kota orang tanpa alamat yang jelas. Setelah diumumkan, tetapi lagi-lagi Siska harus menelan kegagalan, kembali ia tak lolos. Terakhir Siska mengikuti tes Ujian Mandiri di UNJ, dengan bermodal GPS handphone milik kakak iparnya ia berangkat dengan sepeda motor ditemani ayahya dan lagi hasilnya masih tertutup pintu Perguruan Tinggi Negeri untuk seorang Siska Chindy Dilla.

Pada akhirnya, Siska menerima tawaran dari gurunya untuk kuliah di universitas swasta yaitu STKIP Siliwangi Bandung. Siska sadar dengan orang tua yang hanya menjadi buruh tani dan ibunya yang hanya berjualan ayam potong keliling serta seorang adik yang masih sekolah, ia tahu bahwa biaya kuliah itu mahal tetapi dengan keyakinan bahwa ia harus kuliah seperti apa yang diyakininya “Pendidikan adalah hal dasar untuk kehidupan yang lebih baik bagi masa depannya, keluarga dan orang-orang disekitarnya”.

Waktu itu guru SMA Siska, Pak Romli membujuk orang tua Siska agar siska bisa kuliah sekaligus memberitahu mengapa Siska dimasuki Perguruan Tinggi tersebut. Bersyukur orang tua Siska menginzinkan Siska kuliah setelah menengarkan penjelasan dari pak Romli karena biaya kuliah di PTS biasanya lebih mahal dari pada PTN inilah yang membuat Siska dan orang tuanya ragu. Siska kuliah di Jurusan Pendidikan Matematika dengan biaya SPP ditanggung oleh Organisasi Ikatan Alumni Pendidikan Matemaika (IKAPTIKA) dan untuk biaya hidupnya Siska masih harus menengadah tangan kepada kedua orang tuannya.

Memasuki masa kuliah pengalaman yang terberat adalah ketika Siska harus hidup mandiri dengan ngekost, walaupun ia sudah terbiasa berkemah bahkan sampai seminggu tetap saja ngekost berbeda dengan hal itu karena Siska harus bertahan di kota orang selama kurang lebih empat tahun lamanya. Bahkan diawal-awal menjadi anak rantau ia sering menangis disebakan karena sindrom Homesick-rindu rumah dan keluarga.

Namun seiring berjalannya waktu dengan kesibukan tugas-tugas kuliah dan kegiatan organisasi dikampus homesick tersebut dapat diminimalisir.

Pertama kali Siska masuk kuliah, waktu itu tanggal 7 September di KRS miliknya kelas ia dijadwalkan masuk setelah Zhuhur tetapi ketika Siska memasuki kelas, dan menuju kelas ia perhatikan di gedung A sudah sepi, mahasiswa yang ada hanya sedikit sekali, cepat-cepat ia menuju ruang kelas A20 dan ketika tiba di depan pintu A20 hanya ada tiga orang laki-laki yang ia lihat, Siska langsung bertanya, “ini kelas A3 matematika?” dan tiga orang tersebut yang saat ini sudah dikenalnya ialah Roihan, Asep dan Yusuf melihat heran kearah Siska yang wajahnya kebingungan, “ iya tapi kelasnya udah selesai udah ada jadwal baru soalnya”.

Mendengar hal itu Siska kaget bukan main, hari pertama yang ia tunggu-tunggu sebagai mahasiswa ternyata kandas tak ada bekas hari itu, kemudian Roihan memberi jadwal yang baru dan ternyata jadwal tersebut jam kuliahnya pagi semua, jadilah selasa besok menjadi awal ia sebagai seorang mahasiswa. Selasa, Siska pastikan ia tidak telat dan mempersiapkan diri sebagai mahasiswa yang baru di kelasnya, awalnya canggung tetapi dengan sedikit malu-malu Siska berkenalan dengan orang-orang yang ada dikelasnya tersebut.

Mata kuliah pertama pada hari selasa itu adalah mata kuliah Al jabar, entah seolah ada hal yang salah di kepalanya ada yang mengganjal dihatinya, siska hanya tertegun lebih ke arah melamun, “kenapa begini ya Allah, saya ga bisa merespon dan menangkap apapun, kenapa otak dan hati saya berontak ya Allah? Kenapa matematika Ya Allah, kenapa ngga Fisika ya Allah, inikah takdir yang Engakau tuliskan untukku…..?”.

Tetapi Siska tetap meyakini bahwa memang inilah yang terbaik untukya, ini pilihannya dan insyaAllah ini juga yang Allah Ridhai untuknya, untuk merangkai potongan-potongan mozaik hidupnya agar menjadi sebuah karya yang indah pada akhirnya.

Di kampusnya Siska disibukan dengan dua organisasi yang ia ikuti yaitu Lembaga Da’wah Kampus Ikatan Remaja Masjid (LDK IRMA) dan Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) dan satu Program Tutorial Qur’an. Pada ketiga wadah ini ia banyak mendapatkan wawasan dan pengalaman yang berbeda.

Di IRMA, Siska sebagai anggota Bidang Pendidikan dan Da’awah (Pendikwah), siska pernah mengikuti kegiatan Mukhoyam Tarbawi di Pesantren Nurul Fiqri, Lembang dan banyak bertemu sosok-sosok inspiratif disana karena diikuti oleh seluruh para Lemabaga Da’awah Kampus di Indonesia bahkan juga ada yang berasal dari Negara Kamboja dan Laos serta acara tersebut menghadirkan Syeh-Syeh dari Mesir dan Palestina.

Kegiatan-kegiatan seperti Haquba (hataman Qur’an bersama), Qurban, mengadakan Lomba Gema Islami dan Tabligh Akbar, mentoring, dan IRMA Berbagi pada bulan puasa dengan membagikan ta’jil kepada orang-orang di masjid dan orang-orang di jalan sekitar Cimahi. Sedangkan di KPM Siska saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum organisasi tersebut, sebelumnya Siska adalah anggota dari Divisi LITBANG (Penelitian dan Pengembangan Protokoler) pada departemen Pengembangan yang tugasnya mengatur kegiatan mingguan untuk pengembangan skill anggota Protokoler.

Pengalaman yang terbaik menurutnya adalah ketika menjadi Petugas wisuda Angkatan 2011 pada bulan Agustus 2015 kemarin. Menjadi anggota KPM adalah sebuah keuntungan karena organisasi ini di bawahi langsung oleh lembaga jadi ketika ada acara kelembagaan kampus maka KPM lah yang ditugaskan untuk menjadi pelaksananya, seperti petugas ketika ada tamu dari kedutaan Jepang atau pejabat tinggi, sertifikasi Guru, Wisuda S1 dan S2, Lomba Tingkat Jawa Barat seperti Lomba PTK dan PAUDNI, Seminar, acara-acara kemerdekaan dan acara formal lainnya.

Bahkan sering di undang juga untuk acara Table Manner di KPM sahabat seperti UNPAD, UPI, UNISBA, Telkom dan UIN. Pada Program Tutorial Siska adalah salah satu Tutor yaitu orang yang mengawasi dan membantu adik tingkat untuk memperlancar bacaan al-Qur’annya dan memberikan sedikit mentoring.

Walaupun Siska disibukan dengan kegiatan organisasi, tetapi Siska selalu berusaha meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti lomba-lomba yang ada di kampus maupun di luar kampus meskipun memang jarang sekali ia mendapat peringkat di perombaan tersebut.

Tetapi ada Lomba yang pernah ia menjadi terbaik yaitu Lomba Cerdas Cermat PAI pada acara Mabit Program Tutorial yang berhasil juara I pada Desember 2014 dan Lomba Pidato Putri juara II pada kegiatan yang sama di tahun berikutnya. Siska juga pernah mengikuti lomba Musabaqah Tilawati Qur’an (MTQ) di Wilayah Kopertis IV tingkat Peguruan Tinggi Swasta yang ada di Jawa Barat dan Banten pada 7-8 Juni 2015, Siska berhasil masuk babak final dengan masuk di peringkat enam.

Tetapi lomba tersebut memang bukan kehendak siska, siska megikuti lomba tersebut karena tiba-tiba ia tahu namanya sudah ada di lembaga kemahasiswaan untuk mengikuti lomba tersebut bersama satu temannya yang juga sama-sama tidak siap, karena menurut Siska dan temanya, ini salah alamat sebab yang harus mengikuti lomba ini adalah mahasiswa yang pada acara Senat kemarin menjadi juara I lomba MTQ di ajang PORSENI Kampus.

Tetapi memang sekali lagi ia yakin bahwa semunya sudah diatur oleh Allah apapun itu, keyakinan itu membuat mereka melaju menuju Kantor Kopertis di Sumedang, Jawa Barat.

Jika Allah menunjukan suatu alur kehidupan kepada hambanya maka Allah yang akan menjamin bahwa hambanya mampu dan Allah menjanjikan bahwa Dia menjamin Rizki setiap makhluk yang ada di muka bumi ini. Pada Selasa 26 januari 2016 kemarin di daerah Cibitung tepatnya di Yayasan Nurul Islam, Siska mendatangi acara yang di selenggarakan oleh Rumah Zakat, ya dia akan menjadi salah satu penerima beasiswa dari Donatur Rumah Zakat.

Sebelumnya Siska memang merupakan salah satu anak binaan di Rumah Zakat, ia mendapatkan dana untuk pendidikan dari Rumah Zakat semenjak SMP kelas 2 sampai ia lulus SMA kemudian setelah lulus SMA ia tidak mendapatkan kembali. Namun memang selalu ada jalan bagi para penuntut ilmu, pada hari sabtu Siska diberitahu bahwa ada donatur yang akan memberinya beasiswa.

Segera ia siapkan persyaratannya, namun Kak Irwan -koordinator RZ Cikarang- mengatakan bahwa akan ada meet dengan para donatur sekaligus penyaluran pertama yang akan diadakan pada hari selasa, padahal hari selasa ia masih ada di Cimahi karena ada kegiatan Bimbingan Akademik Prodinya, dan ada rapat organisasi sampai tanggal 28 hari Jum’at.

Namun karena sudah keharusan baginya sebagai penerima beasiswa RZ untuk menghadiri acara, maka setelah selesai Bimbingan Akademik selesai Siska langsung bergegas pulang ke Bekasi. Perjalannan sekitar dua setengah jam dan Siska sedikit telat karena ketika sampai di lokasi acara telah dimulai. Siska mengikuti acara dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh para koordinator RZ dan Bapak Ibu Donatur RZ.

“Terimakasih untuk para donator dan Rumah Zakat atas bimbingannya dan dorongan yang diberikan agar tetap bisa dan berkesempatan mendapatkan beasiswa ini, ini akan menjadi sangat bermanfaat bagi kami para penerima beasiswa, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan serta kebarokahan bagi Ayah Bunda Donatur dan insyaAllah akan ada balasan yang lebih baik di dunia dan di akahirat bagi Ayah Bunda donatur dan seluruh staff Rumah Zakat….”.

Rumah Zakat telah banyak memberikan kontribusi bagi kehidupan seorang Siska Chindy Dilla, sebab selain ia mendapatkan beasiswa atau bantuan dana pendidikan, siska juga mendapatkan mentoring atau binaan dari kakak-kakak mentor. Rumah Zakat juga kerap kali mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi para anak asuhnya seperti kegiatan Kemah Juara, Daurah, Jemput Qurban, Buka Puasa bersama, Khitanan Masal, pelatihan-pelatihan dan sebagainya Siska juga sering terllibat dan di akuinya itu sangat bermanfaat menambah wawasan dan pengalaman dalam hidupnya, bahkan melalui acara Daurah yang diadakan waktu itu di Bogor sekitar akhir Desember 2010 Siska memantapakan untuk terus berhijab sebagaimana kewajiban yang Allah Ta’ala tetapkan kepadanya.

“Terimakasih Ya Allah, Terimakasih RZ, Terimakasih Ayah Bunda Donatur… Ayah Bunda ingatlah QS.Al-Baqarah ayat 261 Allah Berfirman: “Balasan orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah ialah seperti sebijih benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tungkai, tiap-tipa tungkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan Ingatlah Alaah akan melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas KaruniaNya, lagi meliputi Ilmu PengetahuanNya”.

” Dengan dana bantuan ini ada banyak harapan yang akan dibangun untuk bisa terus maju dan memaksimalkan diri menjadi leibh baik lagi dan suatu saat nanti Siska juga berharap jika kemarin dan saat ini ia masih menjadi anak asuh RZ maka kelak ia akan menjadi salah satu donatur di Rumah Zakat, aamiin.

Setelah lulus nanti, Siska sudah kembali membangun impian barunya yaitu ia ingin melanjutkan S2 dengan beasiswa tentunya, tetapi kali ini ia ingin di luar wilayah Indonesia –luar negeri-. Seolah haus dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus berkembang serta keinginnnya untuk menjadi salah seorang yang membangun pendidikan di Indonesia kearah yang lebih baik dan maju adalah salah satu alasan dari impiannya tersebut.

Tak lupa bagi Siska kebahagiaan keluarganya adalah semangat yang tak akan pernah luruh, melalui mimpinya ia ingin jika telah jadi orang berhasil nanti, ia bisa membalas budi orang-orang yang selama ini berperan dibelakangnya terutama kedua orang tuanya, sejujurnya ia tak mau lagi melihat ibunya yang berjalan kaki dari kampung ke kampung dengan kepayahan, berteriak-teriak menawarkan dagangan demi kelangsungan hidup keluarganya, demi biaya sekolah anak-anaknya. “Biar siska ajah bu pa yang mencari rizki nanti, ibu bapak do’ain siska biar jadi orang yang berhasil tapi ibu bapak juga harus sabar nunggunya….”.

Sebuah pengharapan yang selau Siska ucapan dalam hatinya setiap kali ia pulang kerumah dari Bandung untuk melepas rindu ataupun karena kehabisan bekal.

Akhirnya hidup ini akan terus melaju ibarat mobil selama ada bahan bakar maka mobil akan terus melaju dengan kecepatan tertentu sesuai dengan kondisi jalan, kondisi mesin bahkan kondisi fisik mobil tersebut hingga mencapai batasnya walaupun kadang tujuan perjalannan mobil tersebut dianggapnya belum tercapai, tetapi ketika mobil telah mencapai batasnya, kehabisan bahan bakar maka berhentilah mobil itu.

Seperti hidup kita kita akan terus melaju dengan kesediaan bahan bakar yang kita punya, bahan bakar bisa berupa napas kita semangat kita, namun terkadang ketika masih ada napas pun kia berhenti yaitu ketik kita tidak memiliki kemaunan dan semangat. maka semnagat adalah salah satu bahan bakar yang kita butuhkan untuk terus melaju.

Laju hidup kita juga ditentukan oleh kondisi emosional, fisik dan ujian yang kita hadapi. Ingatlah hidup ini akan terus berjalan, waktu akan terus berputar dan usia akan terus berkurang, tinggal bagaimana kita memilih dan berusaha yang terbaik atas apa yang kita inginkan selalu ada pilihan dan selalu ada jalan, Takdir Allaah juga akan sebanding dengan apa yang kita lakukan.

Jadi teruslah bermimpi dan hiduplah dalam impianmu itu, seperti Siska yang berasal dari keluarga sederhana dari seorang ibu yang penjual ayam dan ayah yang seorang buruh tani, ia pun bermimpi untuk terus melajutkan pendidikannya karena ia yakini bahwa dengan pendidikan tinggi ia akan bisa merubah keadaan keluarganya dan orang-orang disekitarnnya pastinya kearah yang lebih baik.

Setiap orang mampu bermimpi tetapi tidak setiap orang mampu berlari berdarah-darah demi mewujudkan impiannya. Berusaha sangat mutlak diperlukan tetapi jangan lupa ada Dzat yang Maha Tahu dan Maha mengatur segalanya maka dekatilah Dia karena segala urusan ada di tanganya.

Wallalu alam.

Ditulis oleh : Irwan

Share this...
Print this page
Print
Tags:
Categorised in: ,

No comment for Siska Chindy Dilla, Profil Seorang Pejuang dari Cikarang

Leave a Reply