Menu Click to open Menus
Home » Berita » Retaknya Sebuah Ukhuwah Tanpa Makna

Retaknya Sebuah Ukhuwah Tanpa Makna

(440 Views) December 6, 2015 3:28 pm | Published by | Comments Off on Retaknya Sebuah Ukhuwah Tanpa Makna

agelas_Publikjurnalistik – Kemarin waktu suami habis kontrak di SDIT IS***A dan anak di SD yang sama akan pindah ke Lampung kami diminta melunasi semua kekurangan uang gedung, padahal logika saya anak baru pakai gedung 1 tahun karena memang baru kelas 1, kami sudah bayar Rp 2 juta dari total Rp 6.54 juta.

Suami sudah kerja (kontrak) 5 tahun dilembaga yang sama dan tidak diberi pesangon malah diminta bayar uang gedung yang belum ditempati. Ironis sekali yayasan yang mayoritas sahamnya punya kader memperlakukan saudara sendiri seperti itu, bahkan cenderung ke arah pemerasan karena kalau tidak melunasi uang maka surat pindah tidak diberikan dan juga saat membuat surat pindah kami diminta uang RP 200 ribu, alasannya buat ongkos (bener-bener pemerasan menurut saya).

Berita ini kemudian saya share ke group Perburuhan Nasional, tak lama kasusnya diangkat di internal tapi bukannya selesai, pihak yayasan marah ke suami saya, dia bilang bahwa yayasan menyesalkan berita ini.

Pihak yayasan mengatakan kalau suami bukan lagi guru melainkan wali murid, sehingga harus melunasi semua kekurangan pembayaran kalau ingin surat pindah, lebih ironis lagi bahwa salah satu pemilik yayasan tersebut merupakan teman ngaji suami dan dialah yg mengatakannya.

Sebagai sesama saudara saya kecewa, sedih, marah juga …padahal kita sudah dari awal ikuti prosedur pendaftaran siswa seperti yang lain, bayar ini itu meski anak guru, dan sekarang diperlakukan seperti itu.

Akhirnya saya lunasi semuanya seperti permintaan yayasan meski dengan kekecewaan.

Hanya saja, menurrt saya sebagai buruh, banyak sekali pelanggaran yang dilakukan yayasan terhadap suami saya, diantaranya kontrak berkepanjangan, upah guru jauh di bawah UMR dan juga indikasi pemerasan, dan lain-lain.

Ada seseorang (mantan anggota komisi 9 DPR RI) menyarankan agar saya memberi peringatan ke yayasan tersebut, salah satunya mempublish kasus ini jika yayasan tetap bersikeras agar kami melunasi kekurangan uang sebelum pindah sekolah. Tapi….. sebenarnya saya tidak ingin ribut dengan saudara sendiri. Malu. Kecewa. Wes ra karu-karuan lah pokoknya.

Dikisahkan oleh : Tati Feryana

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

Comment Closed: Retaknya Sebuah Ukhuwah Tanpa Makna

Sorry, comment are closed for this post.