Menu Click to open Menus
Home » Berita » Jakarta Salah Satu Penyandang Predikat Kota Polusi

Jakarta Salah Satu Penyandang Predikat Kota Polusi

(350 Views) December 1, 2015 5:05 pm | Published by | Comments Off on Jakarta Salah Satu Penyandang Predikat Kota Polusi

jktPublikjurnalistik – Polusi udara di negara kita ini terutama di Jakarta adalah yang terparah di seluruh Indonesia, sampai-sampai sebagian warga Jakarta memberikan julukan “kota polusi” kepadanya. Kenapa begitu? Pertama, dalam skala global, Jakarta adalah kota dengan tingkat polusi terburuk nomor 3 di dunia (setelah kota di Meksiko dan Thailand). Kedua, masih dalam skala global, kadar partikel debu (particulate matter) yang terkandung dalam udara Jakarta adalah yang tertinggi nomor 9 (yaitu 104 mikrogram per meter kubik) dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank Dunia pada tahun 2004. Menurut berita yang saya dapat dari kabarindonesia.com dan belum ada penanganan masalah yang terlihat untuk itu.

Beda dengan pemerintah Kota Milan di Italia yang menerapkan 3 langkah mudah untuk mengurangi polusi udara di kotanya. Dalam kurang dari 3 minggu waktu kerja UITP 2015 World Congress & Exhibition melihat metode yang diterapkan oleh kota Milan untuk berperang melawan polusi udara melalui investigasi pada Transportasi Umum dan kendaraan bermobil.

Kota ini menurut uitp.org adalah nomer satu dari rata – rata tertinggi untuk kepemilikan mobil di dunia, di sana hanya ada 72 kendaraan di antara 100 penduduk. Bandingkan dengan Jakarta, berdasarkan data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah 9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 adalah 8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor di DKI Jakarta lebih banyak daripada penduduknya.

Adapun tiga langkah tersebut adalah :
1. Seperti tahun 2008 Milan memperkenalkan kembali sebuah ambisi untuk mengurangi Polusi Udara yang disebut dengan Pembiayaan ECOPASS.

Para penduduk harus membayar apabila kendaraannya yang paling berpolusi udara memasuki pusat kota, harganya berdasarkan kepada struktur biaya yang sesuai dengan Harga Standar Emisi Mesin Kendaraan di sana. Sistem ini berhasil membujuk pengendara untuk beralih ke mobil yang tidak berpolusi udara tapi belum seluruh masalah terselesaikan.

Maka mereka menetapkan referendum tahun 2011 dan 80% dari para pemilih telah memilih memperbaiki ECOPASS dengan melakukan pembayaran yang lebih besar lagi.

2. Kota mode tersebut mengkombinasikan pembiayaan di atas dengan Program “Zona Emisi Rendah”.
Di perkenalkan pada permulaan 2012, Program ini merupakan pembiayaan yang berlaku untuk pengendara yang memasuki 8 Km2 dari pusat kota sejak Jam 7.30 sampai jam 19.30. Zona ini di pantau oleh kamera Video, selama tahun pertama menghasilkan pengurangan polusi udara sebanyak 30%.

Program ini memantau 40.000 kendaraan yang memasuki wilayah kota setiap hari, mengurangi pemakaian 33% Emisi Karbon Monoksida dan Misi pun tercapai.

3. Dana yang diperoleh dari 2 Program di atas digunakan untuk membiayai Infrastruktur Transportasi Publik dan Proyek Kendaraan yang berkelanjutan.

Sistem Transportasi di Milan dibiayai oleh Azienda Trasporti Milanesi (ATM) yang meliputi dari 4 jalur Metro bawah tanah, sebuah Kereta Api bawah tanah, Trem yang terdiri dari 18 jalur, 4 jalur Troley Bus, 35 jalur bis antar kota. Semuanya membawa lebih dari 734 juta penumpang pada tahun 2010.

Dengan Business Plan berbiaya 600 juta Euro sampai 2016, ATM sekarang berinvestasi dalam 30 model terbaru kereta, 125 bis dan mempunyai Pusat Operasi Teknologi Tinggi yang berintegrasi dengan baik serta sistem sinyal baru yang meningkatkan laju frekwensi kereta. Proyek lainnya adalah perbaikan Trem, Instalasi parkir dan keberhasilan dalam perluasan lebih lanjut jalur sepeda.

Antara tahun 2005 sampai 2013 statistik menunjukkan kepemilikan kendaraan bermobil turun dari 44% menjadi 37%, sementara jumlah angkutan umum meningkat dari 51% menjadi 57% dan kepemilikan sepeda yang digunakan untuk bekerja meningkat dari 5% menjadi 6%.

Untuk menghilangkan citra negatif Jakarta sebagai kota polusi, sudah semestinya apabila masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta perlu menetapkan dan melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Langkah-langkah yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat perlu diidentifikasi dan kemudian dihindari untuk mencegah resistansi (perlawanan) dari masyarakat agar upaya perbaikan yang ditempuh tidak menjadi kontraproduktif.

 

Reporter : Miko B.

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

Comment Closed: Jakarta Salah Satu Penyandang Predikat Kota Polusi

Sorry, comment are closed for this post.