Menu Click to open Menus
Home » Berita » Mencetak Nasi Masa Depan (Future Rice) (Part 1)

Mencetak Nasi Masa Depan (Future Rice) (Part 1)

(614 Views) December 29, 2015 2:29 am | Published by | 1 Comment

jasmine riceRice is Life! Why?

Beras adalah hasil olahan dari produk pertanian yang disebut padi (Oryza sativa L.), yang tidak memiliki dokumen tertulis sejarah penggunaannya sebagai bahan makanan. Akan tetapi, banyak ahli memprediksi manusia telah memanfaatkannya sejak ribuan tahun yang lalu. Orang Indonesia disinyalir mulai membudidayakan padi setidaknya lebih dari 2.000 tahun dengan teknologi pengairan . Jadi, dengan teknologi sederhana (primitif: red) tentunya padi telah dibudidayakan jauh sebelumnya.

Suatu naskah lama yang ditulis oleh Gelpke tahun 1902 menyebutkan bahwa sampai dengan akhir abad ke-18 di pulau Jawa dan Madura pangan pokok penduduk masih sangat beragam terutama didominasi umbi-umbian seperti ubi jalar, talas, bentul atau gadung, dan singkong. Walaupun demikian, beras juga sudah menjadi bahan makanan namun kebutuhanya rendah karena hanya dikonsumsi oleh orang dengan status sosial dan budaya yang tinggi seperti golongan menengah keatas dan kaum ningrat. Hingga pada tahun 1800-an kaki tangan Belanda mengenalkan teknologi pengairan teknis pada tanaman padi. Akibatnya persawahan jadi berkembang sangat pesat waktu itu.

Dampak dari pengairan teknis tersebut yaitu menyebabkan produktivitas tanaman padi meningkat tajam, yang berlanjut pada dikenalkannya teknologi penggilingan atau penyosohan padi menjadi beras sosoh. Pola menu konsumsi masyarakat pun berubah drastis yaitu menjadikan nasi dari beras menjadi sumber pangan pokok utama hampir sebagian besar penduduk Indonesia. Padahal, sebelumnya masyarakat Indonesia mengonsumsi pangan yang beragam dan berimbang seperti nasi tiwul, gaplek, dan ‘rasi’ dari tanaman singkong, nasi jagung, ubi jalar, sagu, dan lainnya.

Konsumsi beras Indonesia mencapai 102 kg/kepita/tahun. Tingkat konsumsi tersebut melebihi konsumsi beras negara Asia, seperti Korea yang hanya 60 kg/kapita/tahun, Jepang 50 kg/kapita/tahun, Thailand 70 kg/kapita/tahun, dan Malaysia sebesar 80 kg/kapita/tahun. Perbedaan ini tentu masih dapat dimaklumi karena memang Indonesia masih menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok. Penyediaan beras sudah menjadi harga mati dan menjadi keharusan yang wajib dipenuhi oleh pemerintah berkuasa jika tidak ingin ‘digulung’ oleh rakyatnya. Atau lebih tepatnya beras sudah menjadi barang publik (public goods).

Impor beras di Indonesia dalam dua tahun terakhir juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selama beberapa tahun, Bulog telah mengimpor beras rata-rata 425.000 ton, yang dilakukan pada 2010 sampai dengan 2014. Secara rata-rata selama 20 tahun terakhir, Bulog mengimpor beras 984.000 ton per tahun. Angka ini tergolong fantastis, menunjukkan masyarakat Indonesia sulit dipisahkan dari beras. Bahkan saat ini, kata “makan” bagi orang Indonesia sering diartikan sebagai makan nasi dari beras saja. Pengertian tersebut menjadikan masyarakat memiliki perasaan belum makan kalau belum makan nasi beras walaupun sudah mengonsumsi makanan lainnya. Kata-kata yang cocok untuk menggambarkan situasi ini yaitu menyadur kalimat dari Prof. Em. Samsoe’oed Sadjad, seorang ahli teknologi benih, dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa memang benar “masyarakat kita sudah ‘gila’ makan nasi”. Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan? Pemerintah sudah lama (sejak awal reformasi) menggembor-gemborkan pembangunan pertanian dengan empat kerangka landasan, salah satunya program diversifikasi (penganekaragaman) pangan. Namun, dapat kita saksikan bersama, ternyata program ini mandeg dan tidak konkrit dilaksanakan serius oleh pemerintah. Saat ini isu yang berkembang, justru pemerintah akan kembali mengimpor beras jika Bulog dirasa tak mampu menyediakan kebutuhan beras masyarakat (bersambung ke part II). Ahmadun

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

1 Comment for Mencetak Nasi Masa Depan (Future Rice) (Part 1)

  • re says:

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini