Refleksi Seminar Kopri; “Sudahkah Perempuan Indonesia Merdeka Sepenuhnya”?

Agama Islam sejak abad ke-7M telah menempatkan perempuan dalam posisi yang begitu mulia, seperti pendapat beberapa wanita barat yang memeluk agama islam karena tertarik oleh keadilan dan kemuliannya. Annie Besants berkata tentang wanita islam, “Sesungguhnya kaum wanita dalam naungan Islam jauh lebih merdeka dibandingkan dalam mazhab-mazhab lain. Islam lebih melindungi hak-hak wanita dari pada agama lain. Sementara kaum wanita Inggris tidak memperoleh hak kepemilikan kecuali sejak Abad ke 20. Dan islam telah memberikannya sejak saat pertama kelahirannya (abad ke 5)”.

Sabtu, 15 Agustus 2020 KOPRI PK PMII INISA Cabang Kab Bekasi menyelenggarakan seminar KOPRI menuju HUT RI Ke-75 bertempat di PT Risalah Madinah Tambun, Bekasi. Dengan tema “Sudahkah Perempuan Indonesia Merdeka Sepenuhnya?”.

Hampir 75 tahun Indonesia merdeka , perempuan Indonesia masih kerap mengalami perbudakan, diskirminasi, bahkan menjadi kekerasan karena faktor gendernya. Ada 3 topik issue dimana perempuan belum merdeka sepenuhnya. Pertama atas tubuhnya sendiri, baik secara online maupun offline perempuan di eksploitasi, yang menurut data kekerasan pada perempuan semakin meningkat setiap tahunnya. Kedua, aktualisasi dirinya masih terbelenggu, di bidang ekonomi perempuan daerah atau adat belum bisa turut andil dalam hal perekonomian karena terbelenggu pada situasi budaya dan adat, begitu pun dalam bidang politik dan sosial budaya.

Faiqotul Husna, B.A.Hons., M.pd. aktivis Fatayat NU Kab. Bekasi sebagai Narasumber mengatakan, “Maksud kemerdekaan ini terbatas pada hak-hak Allah dalam al-quran dan dijelaskan oleh nabi yang ada di dalam hadits, dan apa yang saya sampaikan di seminar ini, mengajak kita semua Kaum Generasi Nahdlatul Ulama untuk kembali pada culture ajaran islam yang sesuai”.

Banyak dari perempuan sebelum islam datang dikubur hidup-hidup karena takut dibilang aib, perempuan diperlakukan hanya sebagai accessories saja tidak diberi kebebasan, seorang pria dapat menikahi perempuan sebanyak-banyaknya tanpa mementingkan keadilan dan masih banyak lagi.

Namun islam hadir, al-quran menyapa seluruh manusia baik laki-laki atau pun perempuan untuk memperoleh dan melakukan kebaikan.  

Beliau juga mengatakan, “Wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki tidak ada diskriminasi maupun marginalisasi antara perempuan dan laki-laki, karena jelas pada islam dicanangkan di abad ke 5 sebelum kita lahir disitu tidak ada memarginalkan sesama manusia karena mempunyai hak yang sama. Q.S. An-nisa menjadi bukti bahwa islam telah mengangkat derajat seorang perempuan.”

Harapan panitia dalam menyelenggarakan seminar ini, ke depan perempuan bisa membangun potensi diri yang dapat membangun aktualisasi dirinya di bidang politik, ekonomi, dan budaya, dalam hal ini pun, kami menghimbau pemerintah untuk turut membantu memberikan payung hukum dan fasilitas yang sama terhadap perempuan disetiap tempat.
Penulis: Reesti MPPS