UMKM Bangkit di Era NEW Normal

Selama masa karantina berbulan-bulan, kini beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia, mulai menggeliat untuk bangkit dan menghidupkan kembali roda bisnis dan perekonomian.

Merebaknya pandemi Covid-19 sejak Maret lalu melumpuhkan sejumlah sektor ekonomi, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang hampir terkena dampak Covid-19. Imbas Covid-19 berujung pada penurunan omzet yang terjun bebas. Hal ini karena penerapan physical distancing dan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari pemerintah untuk memutus penularan virus asal Wuhan, Cina.

Berdasarkan hasil pengamatan dari UMKM yang saya dampingi Sebagian besar merupakan UMKM produksi makanan dan minuman yang terdampak.Hal tersebut lantaran adanya protokol kesehatan yang membuat sebagian orang memilih membuat makanan sendiri ketimbang beli jajan.

Bangkit kembali di era new normal ini memang tidak mudah. Demi kelancaran dan keberhasilan jalannya bisnis di tengah pandemi, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan:

  1. Mempertahankan konsumen tetap dengan cara meningkatkan value dan membangun komunikasi.
  2. Menemukan konsumen baru.
  3. Membangun kerja sama dengan mitra baru.
  4. Meningkatkan inovasi dan kreatifitas Produk.
    Salah satu alternatif usaha yang bisa dikembangkan saat pandemi di antaranya frozen food atau makanan beku, bumbu masak, jamu, dan vitamin. Peralihan usaha lama ke beberapa jenis usaha tersebut akan menguntungkan karena item-item itu diperlukan masyarakat saat ini.

Kemudian yang perlu diperhatikan saat masyarakat memilih yang praktis dan bisa dipesan online. Di antaranya ready to eat, ready to warm, dan ready to cook. Itulah mengapa frozen food adalah salah satu pilihan usaha yang laku saat ini,” imbuhnya.

Selain itu, pelaku UMKM harus melek digital. Pemasaran via online terus ditingkatkan bisa melalui marketplace di antaranya Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan lain-lainnya. Meskipun dituntut secara online, UMKM dianggap belum mampu sepenuhnya menjalankan bisnis pemasaran via daring. Hal ini karena kurangnya pengetahuan pelaku UMKM untuk menjalankan usaha berbasis digital. Di antaranya terkait sistem pembayaran dan sistem digitalisasi lainnya yang kerap dikeluhkan pelaku UMKM.

Penulis : Budi Pratama
(Sosial Enterprise Accelelator Rumah Zakat)