Sepeda Motor Pertamaku

Honda Supra X tahun 2005 adalah motor pertamaku yang dibeli dengan tunai. Bukan seberapa harga motor dan seberapa jadul motor tersebut. Akan tetapi adalah proses mendapatkannya, dari hasil kerja keras dan keringat sendiri tanpa bantuan dari orang tua adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Pada tahun 2010 aku merantau ke ibu kota tepatnya di Petukangan Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dengan modal nekad dan tekad serta restu dari kedua orang maka kuambil langkah ini. Di Jakarta aku bekerja sebagai penjaga toko sebuah bengkel Dinamo Pengeboran Mesin Air. Sekolahku dengan prestasi selalu berada di tingkat pertama, bahkan pada SMPN 1 Pedes aku menjadi juara umum. Pernah ikut berbagai perlombaan tingkat Kabupaten Karawang. Rasanya itu semua seakan menjadi sia-sia tergerus dengan realita.

Di ibukota tanpa saudara tanpa keahlian yang aku punya dan dengan prinsip kalau tidak bekerja maka aku tidak punya uang untuk makan, sesederhana itu. Dengan tekad dan ketekunanku. Akhirnya aku bisa menjadi teknisi pada bengkel Dinamo Pengeboran Mesin Air dari semula hanya sebagai penjaga toko. Langganan bengkel tempat aku bekerja adalah mereka yang berdasi, pekerja kantoran, anggota dewan, artis, mereka punya rumah, mobil, dan berpendidikan tinggi. Namun masalah mesin air bengkel kami adalah ahlinya dengan SDM bukan dari orang lulus dari Perguruan Tinggi ataupun Universitas.

Setelah aku mempunyai sebuah motor Supra X tahun 2005 maka aku pergunakan untuk pulang kampung ke Karawang saat lebaran tiba. Saat-saat pertama pulang ke Karawang dan pergi ke Jakarta membawa motor sendiri. Maka rumusku sendiri setiap ada lampu merah atapun jalan bercabang seketika itu aku berhenti dan bertanya pada masyarakat sekitar, itu adalah google maps yang tepat pada masanya. Selain itu aku mempunyai teman satu kampung yang kerja Cikarang. Maka sesekali aku sering silaturahmi di Cikarang.

Seiring berjalannya waktu aku berkeinginan bekerja di Karawang daerah sendiri. Karena merasa miris sekali orang pribumi hidup merantau sedangkan di daerah sendiri hanya menjadi penonton. Setelah beberapa lamaran aku kirim ke beberapa lowongan kerja, akhirnya ada panggilan kerja di sebuah restoran Cikarang. Aku bekerja selama satu tahun. Satu tahun berselang dapat panggilan kerja di sebuah PT di Jababeka 2.

Pada masa-masa kejenuhan untuk bekerja aku berdiskusi dengan seorang temanku yang secara fisik dia tidak sempurna, namun jangan salah dia sedang kuliah di salah satu perguruan tiggi swasta. Setelah kenal dia cukup lama semasa aku kerja di Jakarta dulu dan sampai sekarang. Akhirnya timbul sebuah motivasi pada diriku sendiri. “Kalau dia saja bisa kenapa saya tidak bisa”.

Dan tahun 2015 aku putuskan untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Cikarang dengan mengambil jurusan manajamen. Kenapa kuliah di Cikarang karena bekerja di Cikarang. Kenapa pilih manajemen karena dengan tujuan aku bisa mengelola keinginanku/hawa nafsuku, merubah mindset pola pikir, mengelola nalarku, mengelola kedewasaanku.