Pegiat Kresek Adakan Dialogue Publik, “Gelandangan di Kampung Sendiri (Pengaduan Orang-Orang Pinggiran)”

Hujan yang turun tak menyurutkan semangat pemuda-pemudi Kabupaten Bekasi untuk berdialogue publik. Dialogue (Dia, Lo dan Gue) ini membicarakan tentang sebuah topik buku karya dari Emha Ainun Nadjib yang berjudul, “Gelandangan di Kampung Sendiri (Pengaduan Orang-Orang Pinggiran)”. Acaranya bertempat di Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) Kabupaten Bekasi, Taman Sehati, Cikarang, Stadion Wibawamukti, Sertajaya, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Sabtu, 25/01/2020.

Dialogue publik tersebut dihadiri oleh, H. Aziz Ketua Baznas Kab. Bekasi, Iswandi Ishan Dewan Kesenian Kab. Bekasi, Kiayi Mahmudin Ketua DMI Kab. Bekasi, Kasta Band dari mahasiswa STEBI Global Mulia, Farid Putra Mbah Surip dan para pemuda-pemudi Kab. Bekasi serta seluruh lapisan elemen masyarakat baik mahasiswa dan yang lainnya. Acara tersebut disponsori oleh Biznet salah satu provider internet, pakai Biznet lebih cepat. Acara yang diawali dengan pembacaan puisi, sambutan-sambutan, dialogue publik dan diakhiri dengan doa bersama.

Walid selaku salah satu penggiat Kresek menyampaikan, “Awalnya Kresek terbentuk hanya dari empat orang yang mempunya visi yang sama, keresahan yang sama sehingga kenapa tidak dijadikan sebuah wadah dialogue. Kresek yang merupakan sebuah wadah yang di dalamnya meliputi dari berbagai macam perbedaan namun tetap dalam kebersamaan untuk menentukan nilai”, ungkapnya.

Rian Hamzah sebagai tuan rumah di Kolecer mengatakan bahwa topik kali ini menarik, “Karena ada sebuah kutipan di bagian Pengaduan II buku tersebut. Setidaknya mungkin ia malu: wong mahasiswa itu agent of social change, elite intelektual dan calon pemimpin bangsa, kok, numpang makan dan minta biaya sekolah sama orang tua yang pendidikannya rendah dan melarat? Masak ujung tombak era industrialisasi dan globalisasi nyusu pada orang agraris-tradisional? Ini merupakan cambuk bagi kita sekaligus motivasi untuk terus melakukan perubahan yang lebih baik”, tuturnya.

Iswandi Ishan Ketua Dewan Kesenian Kab bekasi memaparkan, “Bagaimana gelandangan di kampung sendiri bisa terjadi? Karena kurang silaturahmi antar stakeholder, kurangnya waktu untuk bersama sehingga yang malah berkembang adalah fitnah. Susahnya informasi yang akurat. Dan kemudian belum adanya sebuah tempat untuk mengadu”.

Iswandi Ishan menambahkan, “Merasa cape dengan segala macam problematika Kab. Bekasi dan saya lebih baik jadi penonton saja”, tandasnya.

“Kabupaten Bekasi dengan jumlah industri terbesar ternyata menyimpan cerita bahwa nilai pengangguran terbesar pula di Indonesia”, ujar H. Abdul Aziz Ketua Baznas Kab. Bekasi.

“Kita melihatnya menjadi prihatin sehingga perlu solusi. Melalui Baznas membuat program-program Bekasi Mandiri membantu warga untuk bisa menciptakan lapangan kerja sendiri”, lanjut ia.

Ketua DMI Kab. Bekasi Kiyai Mahmudin memberikan pesan, “Kita harus bersinergi juga dengan masjid jangan lupa masjid harus dimakmurkan”, tutupnya.