Sejumput Fitnah Bertajuk Kuasa

“Ini kursi untuk istri-istri dewan. Yang bukan istri anggota dewan silakan pindah. “Seru seseperempuan dengan bedak tebal, alis dan maskara yang hitam mendominasi wajahnya. Wajahnya mengarah ke belakang, deretan kursi ke dua-tiga termasuk yang saya duduki. Saya nyengir. Model bubuk rengginang berpenampilan bersahaja *baca: gembel, kalau dibandingkan dengan penampilan semua perempuan yang memenuhi ruangan utama tempat berlangsungnya Rapat Paripurna DPRD Kab. Bekasi dengan agenda pengucapan sumpah/janji anggota DPRD Kab. Bekasi masa jabatan 2019-2024 memang paling di anggap tidak pantas menempatinya.

Tak menunggu dua kali, saya beringsut meninggalkan tempat duduk saya semula. Undangan dengan nama sekretaris umum partai politik dengan perolehan suara terbanyak kedua di Kabupaten Bekasi saya tenteng. Menyusup ke deretan kursi yang di peruntukan bagi tokoh masyarakat, di belakang kursi untuk bupati beserta jajarannya. Tersinggungkah saya? Demi Allah, tidak. Justru hal ini semakin menebalkan azzam dan keyakinan saya untuk tidak akan pernah menginginkan untuk ada di posisi mereka.

Allah Maha Tahu setiap detil ciptaanNya satu persatu di kolong jagad ini. Setiap kita sampai ke sel-sel dalam tubuh kita di belah berjuta. Betapa mudah kita tergelincir pada keadaan nikmat harta, jabatan juga kuasa. Menganggap kejayaan adalah karunia dari Tuhan sebagai wujud ridha dan kasih sayang. Padahal sejumput harta dan kuasa adalah fitnah besar yang dalam sejarah terbukti menjadi asbab Allah turunkan azabNya ke alam dunia.

Hakikat jabatan adalah amanah. Sampai kapanpun ia tetaplah amanah. Dan layaknya amanah kuasa itu akan menjadi asbab kita menjejakkan kaki ke surga atau menggelincirkan kita ke neraka. Naudzubillah.