Papua Membara, Awas Grand Design Asing!

Kasus mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang bisa dijadikan hanyalah pemicu saja. Sesungguhnya Papua sudah lama sejak zaman orde baru berlanjut sampai rezim Jokowi ini menyimpan kompleksitas persoalan yang belum tuntas.

Selama ini terkesan Papua dielus dengan “kemanjaan” oleh semua orde. 

Papua ibarat dua sisi mata uang?

Papua ibarat dua sisi mata uang, Satu sisi Papua adalah sumber keuntungan ekonomi yang sangat besar kontribusinya untuk pemerintah pusat, sedangkan disisi lain juga di bayang-bayangi rasa kekhawatiran pemerintah pusat Papua akan lepas dari NKRI.

Selain pola penanganan masalah selalu gagap karena takut sorotan pihak asing (Luar Negeri). Banyak spionase asing dengan beragam cover fokus di Papua dengan agenda yang bisa mengancam kedaulatan NKRI atas Papua.

Laksana bara dalam sekam, kompleksitas persoalan yang bertahun-tahaun tersebut jika ada pemicunya maka dengan mudah Papua terbakar.

Pemicu itu bisa jadj by design oleh pihak-pihak tertentu di saat ada momentum yang tepat. Aparat perlu memburu sumber-sumber pusat provokasi.

Kasus Papua tidak boleh di anggap sederhana, kecil bahkan dianggap kejadian biasa. Jika Jakarta tidak cepat bertindak maka berpeluang menjadi buah simalakama. 

Jangan lupa bahwa di Papua ada gerakan separatis OPM yang terus bekerja untuk melepaskan Papua dari NKRI. Pihak asing juga melihat Papua sangat seksi dan menarik untuk dikangkangi. Di saat ada momentum yang menguntungkan, maka tidak menutup kemungkinan kontraksi di Papua kali ini akan sulit diselesaikan dan OPM bisa saja menunggangi. Dan pihak asing juga terus bekerja “mengawal” isu Papua sampai target mereka tercapai.

Arifnya pemerintah pusat melakukan langkah-langkah persuasif agar permasalahan dipapua dapat terselesaikan.

Pertama, pemerintah Pusat melalui tokoh-tokoh kunci di Papua secepatnya membangun komunikasi persuasif dan softh agar reda dan eskalasi aksi, keresahan bahkan potensi kerusuhan berikutnya bisa terkendali.

Kedua, diwaktu berikutnya, pemerintah pusat harus punya komitmen tinggi untuk menjaga kadaulatan NKRI di Papua, tegas bersikap terhadap setiap anasir yang bisa mengancam kadaulatan tanpa risih atau takut sorotan pihak asing.

Ketiga, yang lebih penting adalah pembangunan yang memakmurkan, mencerdaskan, memanusiakan orang Papua, berperadaban tinggi dan berkeadilan harus tegak berkibar di Papua.

kecondongan pihak-pihak yang ingin papua memisahkan diri dari NKRI baik melalui ranah politik, referendum ataupun perlawanan fisik dengan sendirinya bisa tereduksi jika pembangunan berhasil. Karena orang Papua akan bangga menjadi orang Indonesia seutuhnya. Tidak lagi diposisikan laksana “sapi perah” sementara hidupnya tetap terus di “kandang”. Semoga Papua segera dingin dalam damai

Senin, 26 Agustus 2019.

Fikri fauzi, pengamat politik