Menu Click to open Menus
Home » Tulisan Lepas » Tentang Relawan di Pakis Jaya

Tentang Relawan di Pakis Jaya

(119 Views) November 4, 2018 2:42 pm | Published by | No comment

Ntah apa yang bikin saya tetiba punya ide gila mendatangi daerah Pantai Pakis Jaya, Karawang yang jauhnya lebih dari 80kilo dari Planet Setu. Mungkin karena saya punya hubungan psikologis dengan kejadian jatuhnya Lion Air JT 610 karena salah satu teman SMA saya di grup alumni menjadi korbannya, atau bisa juga karena keingintahuan besar saya ketemu sesama relawan kemanusiaan yang telah satu pekan berjibaku disana.

Bada Ashar, saya bareng dua anak, plus sohib bareng 2 anak juga, membelah Setu, berhujan deras di Cibitung- Cikarang Barat, bermacet di Pilar – Sukatani, menjadi penjelajah malam sepanjang aliran sungai di Batujaya, sampai ke Pantai Pakis yang gelap namun tetap ramai dengan orang-orang dari kesatuan masing-masing, Basarnas, Tagana Kab. Bekasi, PMI, dll berkelompok di tenda-tenda dan posko. Deretan ambulan, perahu karet, berjajar disepanjang pantai. Malam ini, Pantai Pakis sangat mystical saya rasa. Aura yang beda, berbaur dengan kesenyapan suasana menyeruak dengan aroma amis menyengat khas suasana kampung nelayan.

Kurang lebih 300 paket nasi dan 300 bungkus kopi sachet, tiga dus air mineral, dan teh, plus gula pasir dan 400 gelas plastik plus sendok kecil plastik berpindah tangan, di tengah suasana dapur umum fasilitas pemda Karawang. Disini, 1500 paket nasi di siapkan setiap hari sejak Senin lalu.

Saya dan rekan-rekan #SedekahRombongan Bekasi berkenan dipertemukan dengan tim Tagana ( Taruna Siaga Bencana ) Karawang – Kab. Bekasi. Dari Bekasi ada Bang Sudin alias Bang Uu dari Sukakarya, dan komandan Tagana Karawang Bang Yanuar, serta rekan-rekannya yang bergantian bercerita seputar kecelakaan pesawat Lion JT 610.

” Dari analisanya orang Basarnas mah, itu pesawat jatuh, dan hancur di laut. Kalo di filem-filem mah, pesawat jatuh masih utuh ya, badannya. Makanya penumpang ada yang selamat. Kalo disini, pesawat jatuh di laut yang kedalamannya cuman 35 meter. Ibarat botol air mineral nyusruk di tanah, preekkk. Makanya badan pesawat aja gak utuh, apalagi badan orang.” kisah Bang Yanuar.

Rekan-rekan Bang Yanuar malah memperlihatkan foto-foto serpihan tubuh yang diduga penumpang pesawat yang mereka temukan di perairan Muaragembong.

” Area pencarian sampai 12 mil laut, satu bagian Blackbox aja ditemukan 500 M dari titik koordinat lokasi jatuhnya pesawat. Bagian badan pesawat yang terhitung utuh itu cuma bagian belakang pesawat yang ada lambang Lionnya, sama roda pesawat. Roda pesawat yang segitu tebalnya aja keliatan tercabik-cabik. Gak kebayang betapa dahsyatnya benturan pesawat dengan dasar laut. ” ungkap Bang Yanuar sambil menerawang.

Bang Yanuar dan rekan-rekan belum tahu kapan batas akhir mereka standby di Pakis. Baru besok status tanggap bencana berakhir, dan akan di bahas berapa lama waktu perpanjangan pencarian korban pesawat, termasuk penyisiran zona pencarian.

Pukul 21.30 wib, saya memutuskan untuk kembali pulang. Jarak yang jauh, juga adanya bocah unyil dalam misi gokil ini membuat saya harus rela hati kembali. Andaikan masih terang, rasanya pengen saya datangi para relawan ini satu persatu dan mencuri foto aktivitas mereka seperti yang kerap saya lakukan bila berkunjung untuk melakukan liputan. Namun, rasa penasaran untuk mendatangi mereka yang luar biasa, para relawan di Pakisjaya sudah sedikit terobati. Sebaik-baik doa teriring, semoga Allah melindungi, memberi kekuatan jugan menghadiahi pahala terbaik bagi dedikasi dan totalitas yang mereka persembahkan bagi sesama.

Relawan Pakisjaya, dekat dengan kita, jangan lupakan mereka dari doa-doa kita. Dan saya menjadi saksi atas kerja nyata mereka. Mereka, telah menanggung sebagian beban, kewajiban kita bagi sesama.

#maks

Share this...
Print this page
Print
Categorised in:

Comment Closed: Tentang Relawan di Pakis Jaya

Sorry, comment are closed for this post.