Menu Click to open Menus
Home » Tulisan Lepas » Bukankah Tugas Kita Hanya Taat?

Bukankah Tugas Kita Hanya Taat?

(275 Views) November 13, 2017 8:05 pm | Published by | No comment

Bukankah Tugas Kita Hanya Taat?

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’

Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila ditanyakan kepada kita, apa sebab kebanyakan manusia masuk kedalam neraka?? Maka jawabannya adalah mereka tidak TAAT kepada Allah. Cuma itu??? Ya, karena ketidaktaatan kepada Allah punya efek dahsyat yang bernama maksiat.

Dalam kisah diatas, seorang wanita yang memiliki penyakit ayan meminta Rasulullah untuk mendoakan agar penyakitnya sembuh. Namun Rasulullah malah memberikan opsi, sebuah pilihan, bertahan dengan penyakitnya itu, dengan syurga sebagai imbalan. Syurga ,yang belum lagi nampak dalam penglihatan.

Apa yang terjadi, wanita itu berubah pikiran, ia memilih untuk membiarkan penyakitnya tetap membersamainya, namun yang ia minta sesuatu yang selama ini menjadi sumber kerisauannya, yaitu, meminta Rasulullah untuk mendoakan kepada Allah agar AURAT nya terjaga supaya tidak nampak ketika sakitnya datang tiba-tiba.

Ketaatan wanita itu memang memukau, hingga kisahnya menggores dengan tinta emas peradaban dan terdengar oleh kita sampai saat ini. Bukan sekedar cerita, tapi sebuah hikmah besar yang mestinya bisa menampar wajah kita dengan keras. Betapa kita masih sering lalai untuk menjaga sebuah syariat yang ada pada tubuh kita yang bernama aurat.

Sudah kita paham, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk menjaga aurat kita kecuali kepada yang berhak, Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga pandangan kita dari melihat aurat orang lain.

Adapun pengecualiannya adalah darurat, lalu dimana batas-batas daruray itu???

Aurat besar seorang wanita adalah dubul dan qubul serta payudara. Aurat besar laki-laki adalah pada qubul dan duburnya. Tak boleh dilihat selain pasangan SAH nya. Kecuali tenaga medis atau dalam keadaan genting.

Tenaga medis seperti dokter beserta rekan-rekannya pun punya aturan syariat sendiri. Saya copaskan dibawah ini,

Pertama: Tetap didahulukan yang melakukan pengobatan pada pria adalah dari kalangan pria, begitu pula wanita dengan sesama wanita. Ketika aurat wanita dibuka, maka yang pertama didahulukan adalah dokter wanita muslimah, lalu dokter wanita kafir, lalu dokter pria muslim, kemudian dokter pria kafir. Jika cukup yang memeriksa adalah dokter wanita umum, maka jangalah membuka aurat pada dokter pria spesialis. Jika dibutuhkan dokter spesialis wanita lalu tidak didapati, maka boleh membuka aurat pada dokter spesialis pria.

Kedua: Tidak boleh melebihi dari bagian aurat yang ingin diperiksa. Jadi cukup memeriksa pada aurat yang ingin diperiksa, tidak lebih dari itu. Si dokter juga berusaha menundukkan pandangannya semampu dia. Jika sampai ia melampaui batas dari yang dibolehkan ketika memeriksa, hendaklah ia perbanyak istighfar pada Allah Ta’ala.

Ketiga: Jika dapat mendeteksi penyakit tanpa membuka aurat, maka itu sudah mencukupi. Namun jika ingin mendeteksi lebih detail, kalau cukup dengan melihat, maka jangan dilakukan dengan menyentuh. Jika harus menyentuh dan bisa dengan pembatas (penghalang seperti kain), maka jangan menyentuh langsung. Demikian seterusnya.

Keempat: Disyaratkan ketika seorang dokter pria mengobati pasien wanita janganlah sampai terjadi kholwat (bersendirian antara pria dan wanita). Hendaklah wanita tadi bersama suami, mahram atau wanita lain yang terpercaya.

Kelima: Dokter pria yang memeriksa benar-benar amanah, bukan yang berakhlak dan beragama yang jelek. Dan itu dihukumi secara lahiriyah.

Keenam: Jika auratnya adalah aurat mughollazoh (yang lebih berat dalam perintah ditutupi), maka semakin dipersulit dalam melihatnya. Hukum asal melihat wanita adalah pada wajah dan kedua tangan. Melihat aurat lainnya semakin diperketat sesuai kebutuhan. Sedangkan melihat kemaluan dan dubur lebih diperketat lagi. Oleh karena itu, melihat aurat wanita saat melahirkan dan saat khitan lebih diperketat.

Ketujuh: Hajat (kebutuhan) akan berobat memang benar-benar terbukti, bukan hanya dugaan atau sangkaan saja.

Kedelapan: Bentuk melihat aurat saat berobat di sini dibolehkan selama aman dari godaan (fitnah).

[Diringkas dari penjelasan Syaikh Sholih Al Munajjid dalam Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 5693]

Para dokter mesti memperhatikan aturan ini ketika ingin mengobati lawan jenisnya, lebih-lebih ketika membuka auratnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber : https://rumaysho.com/2763-aturan-melihat-aurat-lawan-jenis-saat-berobat.html

Lalu siapa kita yang bukan tenaga medis bukan pula dalam kondisi yang teramat darurat yang mengancam nyawa seseorang pada saat itu juga???

Maka alangkah miris ketika seorang relawan sebuah komunitas memberi hujjah dengan alasan ini adalah SOP yang berlaku??

Saya katakan, saya juga seorang pengurus jenazah yang bahkan harus menyentuh bahkan meng “ubek-ubek” aurat wanita yang menjadi ladang amal saya. Dan saya menghindari sebisa mungkin tidak melihat kepada aurat besarnya,ataupun bila harus melihatnya saat membersihkannya maka hanya saya yang melihat, bukan jadi konsumsi rekan tim saya yang lain.

SOP hanya buatan manusia. Syariat adalah buatan Allah, lalu adakah hujjah yang mengatakan bahwa SOP buatan manusia lebih tinggi dari pada SOP buatan Allah??

Lalu apa solusinya??

Foto pasien yang memperlihatkan aurat besar itu hanya sebagai informasi kepada admin sebagai laporan pertanggungjawaban, maka kirim saja foto itu secara PRIBADI dengannya, bukan di grup.

Lagipula bila dilihat dari kebermanfaatannya, foto pasien dengan aurat terlihat vulgar itu tidak memiliki manfaat bagi relawan yang lain bukan??? Ini juga bagian dari syariat, yang dalam hadist singkat Rasulullah telah berkata, ” min husnil islamil mar’i, tarkuhu, maa laya’nihi ” salah satu kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat baginya.

Namun sekali lagi dan seperti yang sering terjadi, kembali saya harus bilang,…aku mah apa atuhhhh……
Cuman penulis baper yang kalo tulisannya di tanggapin sinis cuman bisa mringis. Trus kalo saya bales komentarnya dengan skak matt saya di omongin di belakang katanya saya baperr pisan. Saya jadi pengen nanya, ini siapa siy yang baperan????

Kembali ke konten awal tulisan, tugas kita sebagai hamba Allah emang cuman taat. Tapi kembali pada kepahaman orang yang gak bisa dipaksakan. Kalo itu, saya kembali menggenggam ucapan seorang ulama yang saya catat baik-baik dalam ingatan,

Ada fatwa, ada taqwa.
Karena taqwa, itu berhati-hati.
Karena taqwa itu, adanya di ❤.

#maks

Categorised in:

No comment for Bukankah Tugas Kita Hanya Taat?

Leave a Reply